Sumbawanews.com,- Kasus pengeroyokan terhadap seorang siswa SMK di Bogor yang viral karena diinjak-injak demi masuk ke sebuah geng remaja berakhir dengan perdamaian. Kedua belah pihak—keluarga korban dan pelaku—sepakat menutup perkara tanpa menempuh jalur hukum lebih jauh, setelah melalui mediasi intensif di Polresta Bogor Kota.
Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan seorang remaja bertelanjang dada terbaring di gang sempit, dikeroyok oleh enam orang berseragam sekolah. Korban, yang identitasnya dirahasiakan, diketahui sedang menjalani “ospek” sebagai syarat masuk ke kelompok bernama BRAK—sebuah perkumpulan pelajar lintas sekolah di kawasan Baranangsiang. Polisi menyatakan, tidak ada konflik pribadi atau dendam di balik kekerasan itu. Satu-satunya motif: tradisi paksaan yang dianggap “normal” oleh kelompok tersebut untuk menguji ketahanan calon anggota.
“Ini bukan tawuran, bukan balas dendam. Ini soal ‘tradisi’ yang salah kaprah,” ujar Kapolsek Bogor Timur, AKP Asep Sundana, saat mengonfirmasi hasil penyelidikan.
Enam pelaku—semuanya pelajar—telah diamankan dan menjalani pemeriksaan. Namun, dalam pertemuan tertutup yang melibatkan orang tua, sekolah, dan aparat keamanan, keluarga korban memutuskan untuk memaafkan. “Yang sudah-sudah, saya maafkan. Yang penting, mereka tidak mengulangi lagi,” kata Iis, ibu korban, dengan suara tegas namun penuh kelelahan.
Perwakilan keluarga pelaku, Devi, mengaku menyesal mendalam. “Kami minta maaf sebesar-besarnya. Ini bukan hanya kesalahan anak-anak, tapi juga kegagalan kita sebagai orang tua dan lingkungan yang membiarkan hal seperti ini dianggap biasa.” Devi menambahkan, pihaknya bersedia memberikan kompensasi material dan mendukung pembinaan psikologis bagi para pelaku, termasuk keterlibatan aktif sekolah dalam pemantauan perilaku mereka.
Sekolah tempat korban dan pelaku menuntut ilmu pun mengambil langkah tegas. Kepala sekolah mengumumkan akan memperketat pengawasan selama jam istirahat, menggelar sosialisasi anti-kekerasan berbasis nilai-nilai agama dan kemanusiaan, serta membentuk tim pengawas pelajar yang melibatkan guru, orang tua, dan siswa itu sendiri.
“Kita tidak bisa hanya menyalahkan pelaku. Kita harus bertanya: mengapa tradisi kekerasan ini bisa tumbuh? Di mana peran pendidikan karakter?” ujar seorang guru pembimbing yang enggan disebut namanya.
Kasus ini menjadi sorotan nasional bukan hanya karena kebrutalannya, tapi karena mengungkap betapa rapuhnya perlindungan terhadap anak-anak muda yang terjebak dalam tekanan kelompok. Di tengah maraknya geng remaja yang bersembunyi di balik label “persaudaraan”, kasus ini menjadi pengingat bahwa kekerasan tidak pernah menjadi jalan masuk—melainkan jalan keluar dari kemanusiaan.
Kini, korban telah kembali ke sekolah, didampingi orang tua dan konselor. Ia tidak lagi berbicara tentang geng, atau ospek, atau rasa sakit yang ia alami. Ia hanya ingin belajar, dan pulang tepat waktu.
Dan itu, mungkin, adalah permulaan dari perubahan yang sesungguhnya.

















