Sumbawanews.com,- Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara tegas menolak kemungkinan pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi negara itu. Menurut Araghchi, gagasan itu tidak realistis dan tidak sesuai dengan realitas politik kedua negara yang masih saling curiga.
Pernyataan Trump beberapa hari lalu bahwa ia “ingin bertemu Mojtaba suatu hari nanti” sempat memicu spekulasi di kalangan pengamat internasional. Namun, dalam wawancara eksklusif dengan stasiun televisi Lebanon Al Mayadeen, Araghchi menanggapi dengan dingin: “Saya melihat laporan itu. Tapi kita harus hidup di dunia nyata, bukan dalam imajinasi.”
Mojtaba Khamenei resmi menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu. Meski menjadi pemimpin tertinggi Iran sejak saat itu, Mojtaba sengaja menghindari tampil di depan publik. Araghchi menjelaskan, keputusan itu bukan karena kelemahan kekuasaan, melainkan pertimbangan keamanan strategis. “Dia mengendalikan semua urusan negara dari balik layar. Kehadirannya tidak perlu dipertunjukkan untuk menegaskan otoritasnya.”
Iran dan AS saat ini memang dalam gencatan senjata sejak 8 April, setelah serangkaian serangan balasan mematikan di Teluk Oman dan wilayah Timur Tengah. Namun, upaya negosiasi langsung maupun melalui perantara belum membuahkan kesepakatan permanen. Kedua pihak masih terjebak dalam siklus saling tuduh dan provokasi, baik di medan perang maupun di ruang siber.
Dalam konteks ini, pertemuan antara Trump—yang dikenal suka memainkan politik spektakuler—dengan Mojtaba, yang menjaga jarak dari sorotan publik, dianggap oleh Teheran sebagai fantasy politik yang tidak berdasar. Araghchi menegaskan, tidak ada saluran diplomatik yang membuka ruang untuk pertemuan semacam itu, apalagi dalam kondisi kepercayaan yang masih retak.
Bagi Iran, mengizinkan pertemuan semacam itu—terutama dengan tokoh yang pernah mengancam keberadaan rezim mereka—akan dianggap sebagai tanda kelemahan. Sementara bagi AS, menganggap Mojtaba sebagai mitra negosiasi berarti mengakui legitimasi kepemimpinan yang lahir dari kekacauan militer, sebuah pengakuan yang belum siap diberikan Washington.
Dengan demikian, meski Trump mungkin melihat pertemuan itu sebagai simbol keberhasilan diplomasi, di Teheran, itu justru dianggap sebagai ilusi yang berbahaya.

















