Sumbawanews.com,- iFixit mengungkap bahwa ponsel milik mantan Presiden AS Donald Trump, yang dipasarkan sebagai “T1 Phone,” sebenarnya adalah duplikat hampir identik dari HTC U24 Pro, sebuah perangkat yang diproduksi di Tiongkok. Dalam pengujian mendalam yang dilakukan bersama NBC, tim teknis iFixit membongkar kedua perangkat, memindai bagian dalamnya dengan CT scan, bahkan merakit sebuah “Frankenstein phone” dengan papan sirkuit HTC yang dipasang ke dalam bodi T1 Phone—hasilnya, keduanya berfungsi secara identik.
Perbedaan fisik yang ada pun sangat minor: posisi lampu kilat sedikit bergeser, gril speaker dimodifikasi, dan modul chipset yang sama spesifikasinya ternyata berasal dari pemasok berbeda—Micron untuk Trump Phone dan SK Hynix untuk HTC. Perubahan paling signifikan terdapat pada baterai: sel baterai T1 Phone lebih besar dan diproduksi di Filipina, meski hanya mendukung pengisian daya 30W yang lebih lambat dibanding versi aslinya.
Dugaan bahwa T1 Phone adalah replika HTC sudah lama beredar, mengingat desain bodi, port headphone, slot microSD, hingga spesifikasi teknisnya nyaris serupa. Namun, temuan iFixit mengonfirmasi secara teknis bahwa ini bukan sekadar kemiripan—ini adalah duplikasi lengkap.
HTC sebelumnya menegaskan bahwa perusahaan tidak merancang atau memproduksi ponsel untuk pihak ketiga. Namun, mengingat HTC menjual sebagian besar bisnis ponselnya kepada Google pada 2017, kemungkinan besar HTC U24 Pro dibuat oleh mitra manufaktur pihak ketiga—dan Trump Mobile tampaknya memilih pemasok yang sama untuk produknya.
Ironisnya, meski Trump Mobile terus mempromosikan T1 Phone sebagai “buatan Amerika,” fakta di lapangan menunjukkan bahwa komponen utama—termasuk papan sirkuit dan perakitan awal—berasal dari Tiongkok, seperti yang telah terungkap dalam laporan sebelumnya. Kini, dengan baterai yang diproduksi di Filipina, klaim “Made in USA” semakin rapuh.
Pertanyaannya bukan lagi apakah ponsel ini asli buatan Trump, tapi: seberapa jauh pihak yang mengklaim “kembali ke Amerika” bersedia mengorbankan kebenaran demi narasi politik?

















