Home Serba Serbi Tekno Pokemon Go Dikaitkan dengan Latihan Drone Militer, Niantic Bersuara

Pokemon Go Dikaitkan dengan Latihan Drone Militer, Niantic Bersuara

Sumbawanews.com,- Rumor bahwa data dari game Pokemon Go digunakan untuk melatih kecerdasan buatan drone militer Amerika Serikat dibantah tegas oleh Niantic Spatial, anak perusahaan yang mengelola teknologi geospasial dari game tersebut. Namun, perusahaan mengakui adanya kerja sama awal dengan Vantor, sebuah perusahaan intelijen yang memiliki koneksi ke sektor pertahanan—meski tanpa transfer data pemain.

Isu ini mencuat setelah laporan media Belanda Trouw menyebutkan bahwa 30 miliar titik data pemindaian lokasi dari Pokemon Go dan game Niantic lainnya diduga menjadi bahan pelatihan sistem navigasi tanpa GPS. Teknologi semacam ini, yang mampu menentukan posisi akurat di area tanpa sinyal satelit, memang punya potensi ganda: bisa dipakai untuk robot pengiriman di perkotaan, sekaligus untuk drone penjinak bom atau kendaraan tak berawak militer.

Namun, Niantic Spatial menegaskan bahwa data mentah yang dikumpulkan pemain—terutama dari fitur pemindaian AR yang kini sudah dihapus dari Pokemon Go sejak Maret 2025—tidak pernah diserahkan ke pihak ketiga, termasuk Vantor. Menurut perusahaan, yang digunakan dalam pelatihan AI adalah model hasil olahan, bukan data asli pengguna. Fitur pemindaian yang dulu opsional itu, lanjut mereka, hanya digunakan sebagian kecil pemain dan telah dihentikan sebagai bagian dari proses transisi kepemilikan game.

Pokemon Go sendiri, yang diluncurkan pada 2016, kini sepenuhnya dikelola oleh Scopely, perusahaan yang juga menaungi Monopoly Go. Niantic Spatial, yang awalnya merupakan divisi teknologi di dalam Niantic, kini berfokus pada pengembangan peta digital dunia nyata untuk keperluan AR, bukan pengembangan game. Dengan demikian, data yang dihasilkan dari game-game Niantic sebelumnya tidak lagi menjadi aset mereka.

Kerja sama dengan Vantor, menurut pernyataan resmi, masih berada di tahap eksplorasi teknologi dasar—bukan proyek militer. Niantic Spatial menekankan komitmennya terhadap privasi pengguna dan menegaskan bahwa tidak ada pelanggaran terhadap kebijakan data pribadi yang pernah mereka tetapkan sejak awal.

Meski demikian, kontroversi ini mengingatkan publik pada kekuatan besar yang tersembunyi di balik game berbasis lokasi. Pokemon Go bukan sekadar hiburan: ia menciptakan peta digital dunia nyata dengan presisi tinggi, melalui partisipasi jutaan pemain yang tanpa sadar menjadi “pengumpul data”. Ketika teknologi seperti ini berpotensi dimanfaatkan untuk keperluan pertahanan, pertanyaan etis tentang batas antara hiburan dan pengawasan pun kembali mengemuka.

Sementara itu, Pokemon Go tetap tersedia di App Store dan Google Play, menjadi saksi bisu dari sebuah era di mana dunia nyata dan digital berbaur—dan di mana setiap langkah pemain bisa jadi jejak yang lebih besar dari yang mereka duga.

Previous article90 Hakim Diusulkan Dikenai Sanksi Awal 2026
Next articleSiswi Tusuk Guru Usai Kepergok Mencuri, Kabur Bersama Orang Tua
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.