Home Serba Serbi Tekno Lebih Berharga dari Rumah di San Francisco: Saham Anthropic

Lebih Berharga dari Rumah di San Francisco: Saham Anthropic

Sumbawanews.com,- Di San Francisco, rumah dengan harga rata-rata lebih dari $2 juta sudah dianggap mewah. Tapi kini, di jantung Silicon Valley, ada aset yang nilainya bahkan melampaui batas-batas properti mewah: saham perusahaan kecerdasan buatan Anthropic. Di tengah gila-gilaan investasi AI, sejumlah pemilik rumah mulai menawarkan properti mereka bukan dengan uang tunai, melainkan dengan saham perusahaan rintisan AI—dengan syarat, nilai sahamnya setara atau bahkan melebihi harga rumah.

Di 160 Noe Street, sebuah rumah bergaya Edwardian di kawasan Duboce Triangle, agen properti Rachel Swann mencantumkan harga jualnya bukan hanya dalam dolar, tapi juga dalam ekivalen saham Anthropic atau OpenAI. Inspirasi datang dari pertemuannya dengan sejumlah karyawan Anthropic yang, meski kaya secara buku besar, kesulitan menguangkan aset mereka untuk membeli rumah. “Mereka punya potensi kekayaan hingga $50 juta dari saham, tapi tidak punya likuiditas,” ujar Swann. “Ini terus muncul dalam percakapan.”

Tren ini bukan satu-satunya. Pada April, seorang banker investasi di Mill Valley menawarkan rumah dan tanah tambahannya secara langsung untuk saham Anthropic. Di Healdsburg, Vijay Chattha, pemilik agensi PR yang melayani perusahaan teknologi, menawarkan rumah mewah tiga kamar tidur dengan kolam renang dan lapangan bocce—yang juga memiliki izin sewa jangka pendek di Airbnb—dengan harga $2,5 juta, atau $2 juta dalam bentuk saham Anthropic. Ia bahkan memberi diskon $500.000 bagi karyawan Anthropic, yakin bahwa nilai saham perusahaan itu akan melesat jauh lebih cepat daripada apapun yang bisa ia beli dengan uang tunai.

“Pertumbuhan Anthropic tahun lalu gila-gilaan,” kata Chattha, merujuk pada valuasi perusahaan yang melonjak dari $380 miliar menjadi $965 miliar dalam waktu tiga bulan. Ia menolak tawaran saham OpenAI, karena lebih percaya pada produk Claude, asisten AI buatan Anthropic. “Saya ingin menjual rumah ini, dan ingin berinvestasi di Anthropic. Mengapa tidak menggabungkannya?”

Namun, transaksi semacam ini berjalan di tepi hukum. Anthropic baru-baru ini memperbarui kebijakan resminya yang menyatakan bahwa penjualan saham tanpa persetujuan dewan direksi adalah tidak sah. Meski demikian, agen properti David Hargreaves, yang menangani penjualan rumah Chattha, mengaku pernah menyaksikan pertukaran serupa—dengan Bitcoin atau barter properti antar pemilik. “Saya tidak tahu bagaimana ini bisa dijalankan,” akui Chattha, yang bahkan meminta Claude untuk mengecek kemungkinan hukumnya.

Pakar properti mewah Helena Zaludova menyebut inisiatif ini sebagai “trik cerdas”—bukan karena bisa direalisasikan, tapi karena efeknya luar biasa. “Perusahaan escrow tidak bisa menangani sekuritas yang belum go public,” katanya. Tapi, menyebut nama Anthropic dan OpenAI? Itu justru membuat rumah-rumah itu jadi viral.

Sejak listing 160 Noe Street muncul, Swann menerima puluhan panggilan dari agen yang mewakili karyawan Anthropic dan OpenAI. Bahkan, ada yang menawarkan: “Kami tidak butuh beli rumah—tapi mau beli saham dari Anda?”

Di tengah gencarnya spekulasi di pasar sekunder, di mana transaksi saham perusahaan swasta seringkali mencurigakan, satu hal jelas: di San Francisco, rumah bukan lagi simbol kekayaan tertinggi. Kekayaan sejati kini berbentuk saham—dan orang-orang siap menukarnya dengan batu bata dan genteng.

Previous articleTiga Prajurit TNI AD Dihukum 1–13 Tahun atas Pembunuhan Kacab Bank
Next articleGoogle Janjikan Pemulihan Air Lebih Banyak dari yang Dipakai
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik