Home Serba Serbi Tekno Kertas pH Buatan ITS Deteksi Minyak Babi dalam Sekejap

Kertas pH Buatan ITS Deteksi Minyak Babi dalam Sekejap

Sumbawanews.com,- Tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sukses mengembangkan kertas deteksi berbasis pH yang mampu mengidentifikasi keberadaan minyak babi dalam makanan hanya dalam hitungan detik. Inovasi ini, yang dirancang mirip strip uji pH, menggunakan reagen nano-sensitif yang berubah warna saat bersentuhan dengan lipid khas minyak babi—tanpa perlu alat laboratorium rumit seperti PCR atau elektrokimia.

Dipimpin oleh Ruri Agung Wahyuono, dosen Teknik Fisika ITS, alat ini lahir dari kebutuhan mendesak masyarakat, terutama umat Muslim dan penderita alergi makanan, untuk memastikan kehalalan dan keamanan pangan secara praktis. “Perubahan warna yang terjadi sangat jelas dan bisa dibaca mata telanjang,” ujar Ruri dalam keterangan tertulis, Rabu (27/5/2026). “Ini bukan sekadar alat halal, tapi alat keselamatan.”

Tak hanya untuk mendeteksi minyak babi, sistem ini dirancang modular. Dengan mengganti formulasi reagen dan katalis, alat serupa bisa disesuaikan untuk mengidentifikasi pemicu alergi lain—seperti kacang, susu, atau gluten—tanpa mengubah bentuk fisiknya. Potensi penggunaannya luas: dari pedagang kaki lima hingga jemaah haji yang ingin memastikan keamanan makanan di perjalanan.

Harga perkiraan per strip uji hanya sekitar Rp10.000, dan bisa lebih murah jika diproduksi massal. Ini menjadikannya solusi ekonomis dibanding metode laboratorium yang mahal dan memakan waktu berhari-hari. Tim ITS juga berkomitmen membangun rantai pasok material secara mandiri, menghindari ketergantungan pada impor.

Inovasi ini sejalan dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ketiga (kesehatan dan kesejahteraan), keempat (pendidikan berkualitas), dan kesembilan (industri dan inovasi). Dengan teknologi sederhana namun cerdas, ITS tidak hanya menjawab tantangan halal, tapi juga membuka pintu bagi deteksi alergi yang terjangkau di tingkat komunitas.

Dengan uji coba yang sudah dilakukan di berbagai titik distribusi makanan, termasuk program makanan bergizi gratis, alat ini siap masuk tahap komersialisasi. Masyarakat kini punya senjata sederhana—namun revolusioner—untuk melindungi diri dari kontaminasi makanan yang tak terlihat.

Previous articleNeymar Terancam Absen di Piala Dunia Usai Cedera Otot
Next articlePabrik Kertas di Washington Meledak, 11 Tewas
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik