Sumbawanews.com,- Qualcomm mengumumkan rencana meluncurkan laptop Windows dengan harga mulai dari $300 atau sekitar Rp4,5 juta, menargetkan pasar entry-level yang selama ini dianggap sulit dijangkau dengan performa memadai. Platform baru bernama Snapdragon C — singkatan dari “Compute” — diklaim akan menghadirkan pengalaman komputasi responsif, baterai tahan seharian, dan hampir tanpa suara kipas, meski menggunakan komponen generasi sebelumnya.
Dalam konferensi pers, Mandar Deshpande, Senior Director of Product Management Qualcomm, menegaskan bahwa platform ini dirancang untuk “menaikkan standar” apa yang seharusnya diharapkan pengguna budget. “Anda mendapatkan semuanya: browsing lancar, panggilan video tanpa lag, streaming tanpa buffering, dan multitasking yang stabil,” katanya. Ini menjadi lompatan signifikan mengingat laptop Windows berbasis Arm sebelumnya baru saja turun dari harga $600 pada awal tahun ini, dan $700 pada 2024.
Untuk mencapai harga tersebut, Qualcomm mengambil jalan kompromi. Platform Snapdragon C tidak menggunakan CPU Oryon terbaru yang menjadi andalan chip high-end, melainkan mengandalkan arsitektur Kryo yang lebih lama, serupa dengan yang digunakan di smartphone dan Chromebook generasi sebelumnya. Meski demikian, setiap perangkat tetap dilengkapi NPU (Neural Processing Unit) untuk komputasi AI lokal — meski tidak memenuhi syarat resmi Microsoft sebagai “Copilot Plus PC” yang memungkinkan akses penuh ke fitur AI canggih seperti Copilot.
Laptop pertama yang dikonfirmasi menggunakan platform ini adalah Acer Aspire Go 15 AG15-Q31P. Perangkat ini mengusung layar 15,6 inci resolusi 1080p, RAM hingga 8GB, penyimpanan 512GB, dua port USB-C, satu port USB-A, HDMI 1.4, Wi-Fi 6E, dan kamera 1080p. Baterainya berkapasitas 53Wh. Acer belum mengungkap harga pasti atau tanggal rilis, sementara HP dan Lenovo juga belum memperkenalkan model mereka, meski ketiganya telah berkomitmen untuk meluncurkan produk berbasis Snapdragon C tahun ini.
Qualcomm menegaskan bahwa platform ini saat ini hanya ditujukan untuk Windows, dan belum membahas kemungkinan penggunaan di perangkat Chromebook atau Android. Perusahaan berencana mengungkap spesifikasi teknis lebih dalam dalam beberapa bulan mendatang, dengan lebih banyak model laptop dalam pengembangan.
Pengumuman ini datang di tengah tekanan harga komponen PC yang masih tinggi akibat krisis memori global yang disebut “RAMageddon”. Dengan harga yang ditawarkan, Qualcomm berusaha menggeser persepsi bahwa laptop murah harus dikorbankan performanya — dan menantang dominasi MacBook Neo dan produk sejenis yang masih berada di kisaran harga dua kali lipat.















