Sumbawanews.com,- Google resmi memperkenalkan fitur baru yang memungkinkan pemilik situs web untuk menolak agar konten mereka digunakan dalam hasil pencarian berbasis kecerdasan buatan. Keputusan ini, yang diumumkan melalui blog resmi perusahaan, menandai perubahan signifikan dalam strategi pencarian AI Google setelah lebih dari tiga tahun mengandalkan konten web untuk melatih fitur seperti AI Overviews dan AI Mode.
Fitur baru yang terintegrasi dalam Google Search Console ini berupa tombol pengaturan yang memungkinkan webmaster memilih apakah halaman mereka boleh dimanfaatkan sebagai sumber informasi bagi sistem AI Google. Perusahaan menyatakan bahwa keputusan untuk mengopt-out tidak akan memengaruhi peringkat situs dalam hasil pencarian konvensional. “Situs yang memilih keluar tidak akan menerima lalu lintas atau tayangan dari fitur AI generatif kami,” demikian pernyataan Google.
Rencananya, pengujian fitur ini akan dimulai secara terbatas di Inggris sebelum diluncurkan secara global. Selain itu, Google juga memperkenalkan sejumlah insight baru di Search Console yang memberikan data rinci tentang halaman-halaman mana yang muncul dalam respons AI, serta negara-negara tempat respons tersebut ditampilkan. “Kami terus bekerja sama dengan pemilik situs untuk memahami metrik apa yang paling bermanfaat, dan akan menambahkan indikator baru seiring waktu,” ujar perusahaan.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Google dan penerbit konten. Beberapa media besar, termasuk Condé Nast, telah mengakui bahwa mereka mulai mengurangi ketergantungan pada lalu lintas dari mesin pencari Google. CEO Condé Nast, Roger Lynch, dalam wawancara terbaru, mengungkapkan bahwa timnya telah diminta tahun lalu untuk “mengasumsikan tidak ada lalu lintas dari pencarian” guna memperkuat pendapatan dan tayangan halaman. Meski ia menegaskan bahwa tidak mengharapkan lalu lintas dari Google benar-benar hilang, ia memprediksi bahwa kontribusi Google terhadap total trafik perusahaan akan turun menjadi persentase satu digit.
Pengumuman ini menyusul peluncuran fitur canggih lain di Google I/O 2026, termasuk kotak pencarian dinamis yang mampu memproses input video, gambar, file, bahkan tab browser. Banyak analis menyebut perubahan ini sebagai akhir dari “Google Search seperti yang kita kenal,” meski sejauh ini belum ada bukti nyata bahwa model tradisional pencarian benar-benar tergantikan.
Dengan memberikan kendali kepada pemilik konten, Google tampaknya berusaha meredam kritik sekaligus membangun kembali kepercayaan—sekaligus mengakui bahwa masa depan pencarian AI tidak bisa dibangun tanpa kerja sama para penerbit yang selama ini menjadi tulang punggung informasinya.















