Sumbawanews.com,- Peningkatan signifikan gempa embusan tercatat di Gunung Anak Krakatau sejak 26 Juni 2026, memicu kewaspadaan dari Badan Geologi. Aktivitas seismik yang kian intens disertai asap kelabu bermuatan abu vulkanik tipis yang terdeteksi satelit VAAC Darwin, Australia, mengindikasikan pergerakan magma di permukaan gunung api aktif itu.
Menurut pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria, pola ini merupakan gejala klasik menuju erupsi. “Jika terjadi erupsi, ancaman utama berasal dari awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat,” ujarnya dalam keterangan resmi pada 27 Juni 2026.
Peningkatan aktivitas tidak muncul tiba-tiba. Sejak 1 Juni, satelit Sentinel telah merekam emisi gas sulfur dioksida (SO₂) dan anomali panas di kawah. Pada 10 Juni, titik api muncul di pusat kawah, diikuti asap tebal dan lonjakan gempa dangkal yang mencapai lebih dari 50 kali per hari pada 18–19 Juni. Meski tidak diiringi deformasi atau gempa dalam, dinamika ini menunjukkan pergerakan magma yang semakin dekat ke permukaan.
Hingga kini, status Gunung Anak Krakatau tetap pada Level II (Waspada). Namun, potensi eskalasi mengharuskan otoritas dan masyarakat tetap waspada. Gunung yang terletak di Selat Sunda ini pernah memicu tsunami mematikan pada 22 Desember 2018 akibat longsoran tubuh gunung, dan sejak itu terus mengalami fase pertumbuhan pasca-erupsi hingga Desember 2023.
Pengamatan dilakukan melalui dua pos pantau di Kalianda, Lampung, dan Pasauran, Banten. Masyarakat, termasuk wisatawan dan pendaki, dilarang memasuki zona radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Jeda erupsi yang sempat terjadi kini digantikan oleh aktivitas magmatik berenergi rendah yang terus berkelanjutan.
Anak Krakatau, gunung tipe A yang secara administratif berada di Kabupaten Lampung Selatan, tetap menjadi salah satu gunung api paling dipantau di Indonesia. Dengan pola aktivitas yang semakin kompleks, kewaspadaan bukan lagi pilihan—tapi keharusan.















