Home Serba Serbi Tekno Dua Megathrust Jawa dalam Tiga Dekade: Kesiapsiagaan Lebih Penting daripada Spekulasi

Dua Megathrust Jawa dalam Tiga Dekade: Kesiapsiagaan Lebih Penting daripada Spekulasi

Sumbawanews.com,- Di selatan Pulau Jawa, tektonik bumi tak pernah tidur. Dalam 32 tahun terakhir, dua gempa megathrust dahsyat telah mengguncang zona subduksi ini—pada 1994 di Banyuwangi dan 2006 di Pangandaran—masing-masing memicu tsunami yang merenggut ribuan nyawa. Kini, ilmuwan kembali mengingatkan: ancaman itu bukan mimpi buruk masa lalu, tapi fakta geologis yang masih hidup.

Gayatri Indah Marliyani, dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, menekankan bahwa megathrust bukan fenomena hipotetis. “Ini sudah terjadi dua kali. Bukan pertanyaan ‘akan terjadi atau tidak,’ tapi ‘kapan’ dan ‘seberapa besar kerusakannya,’” ujarnya dalam seminar bertema 20 Tahun Gempa Yogyakarta dan Antisipasi Megathrust Jawa, Sabtu, 31 Mei 2026. Ia menilai, ketakutan berlebihan justru mengaburkan fokus utama: mitigasi nyata.

Di balik keheningan laut selatan Jawa, energi tektonik terakumulasi selama lebih dari dua abad. Zona seperti Selat Sunda, pantai selatan Jawa, hingga Mentawai menjadi “seismic gap”—area yang lama tak meledak, tapi menyimpan potensi gempa berkekuatan di atas 8,5 SR. Kepala BMKG periode 2017–2025, Dwikorita Karnawati, menegaskan, informasi ini bukan untuk menimbulkan panik, melainkan dasar penyusunan skenario darurat yang terukur.

“Tanpa skenario, kita hanya berjalan dalam gelap. Kita tidak bisa memprediksi waktu, tapi kita bisa mempersiapkan respons,” kata Dwikorita. Ia menyoroti krisis memori kolektif: generasi muda yang tidak mengalami gempa 2006 cenderung meremehkan risiko, padahal infrastruktur dan sistem evakuasi masih rapuh di banyak wilayah pesisir.

Di Bantul, yang pernah menjadi episentrum gempa 2006, BPBD telah membangun jaringan Tsunami Ready Community berstandar UNESCO, memasang peringatan dini, dan melatih warga untuk evakuasi mandiri. “Kami tidak menunggu gempa datang. Kami membangun budaya siaga sehari-hari,” ujar Kepala BPBD Bantul, Mujahid Amrudin.

Para ahli sepakat: teknologi belum mampu memprediksi gempa dengan akurat. Tapi riset geofisika, pemetaan sesar aktif, dan edukasi berkelanjutan adalah senjata paling ampuh. “Daripada menebak-nebak kapan gempa akan terjadi, lebih baik tanya: apakah rumahmu tahan gempa? Apakah kamu tahu jalur evakuasi terdekat? Apakah anakmu tahu apa yang harus dilakukan saat alarm berbunyi?” tegas Gayatri.

Ancaman megathrust bukanlah kutukan alam. Ia adalah ujian peradaban—seberapa siap kita menghadapi kekuatan bumi yang tak terbendung, bukan seberapa sering kita memperdebatkan waktu kedatangannya.

Previous articlePeringatan Hari Lahir Pancasila, 800 Warga Puncak Jaya Kirab Bendera 50 Meter
Next articleRusia Serang Ukraina dengan Gelombang Udara Terbesar, 9 Tewas
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik