Sumbawanews.com,- Kecelakaan hebat yang terjadi di Launch Complex 36 di Florida, ketika roket New Glenn milik Blue Origin meledak selama uji coba statis, mengguncang rencana ambisius NASA untuk membangun pangkalan di Bulan sekaligus menghambat percepatan jaringan satelit Starlink milik Amazon. Ledakan yang terjadi pada malam hari itu tidak hanya menghancurkan roket itu sendiri, tetapi juga merusak infrastruktur peluncuran utama perusahaan—satu-satunya landasan peluncuran yang dimiliki Blue Origin untuk New Glenn.
Menurut laporan dari sumber di Ars Technica, transporter-erector dan salah satu menara petir di lokasi peluncuran kemungkinan tak bisa diselamatkan. Dengan kerusakan yang begitu parah, para ahli memperkirakan tidak akan ada peluncuran New Glenn lagi pada tahun 2026, bahkan peluncuran pada paruh pertama 2027 dianggap sebagai pencapaian luar biasa. “Spaceflight is unforgiving,” ujar Administrator NASA Jared Isaacman, menekankan bahwa pengembangan kendaraan peluncur berat memang penuh tantangan, namun pihaknya akan bekerja sama dengan mitra untuk menyelidiki penyebab kegagalan ini dan memperbaiki jadwal misi.
Kegagalan ini berdampak langsung pada program Artemis NASA. Roket New Glenn semula dijadwalkan meluncurkan pendarat bulan robotik pada musim gugur 2026, serta mendukung misi Artemis III pada 2027, di mana astronot akan bersandar pada pendarat buatan Blue Origin. Kini, semua jadwal itu terancam tertunda, memaksa NASA untuk mencari alternatif atau menunda rencana strategisnya.
Di sisi lain, Amazon juga terpukul. Roket yang meledak sedang dipersiapkan untuk meluncurkan 48 satelit Leo—jumlah terbanyak dalam satu misi—yang menjadi bagian dari upaya Amazon membangun konstelasi satelit internet berkecepatan tinggi. Hingga kini, Amazon baru meluncurkan lebih dari 300 dari 1.618 satelit yang diwajibkan FCC sebelum 30 Juli 2026. Tanpa New Glenn, perusahaan terpaksa bergantung pada penyedia sekunder seperti United Launch Alliance dan Arianespace, sekaligus bersaing ketat dengan SpaceX yang sudah lebih unggul dalam kapasitas peluncuran.
Jeff Bezos, pendiri Blue Origin, mengakui kejadian ini sebagai “hari yang sangat berat,” namun menegaskan komitmennya untuk membangun kembali dan kembali terbang. “Ini layak diperjuangkan,” tulisnya di X. Sementara itu, Elon Musk, pesaing utama Bezos, menyampaikan simpatinya: “Maaf mendengar ini. Semoga kalian segera pulih.”
Dengan landasan peluncuran yang hancur dan waktu yang terbatas, Blue Origin kini menghadapi tantangan terberat sejak berdiri: memulihkan kepercayaan, memperbaiki infrastruktur, dan mengejar ketinggalan di balik layar—semua sambil tetap menjaga janji kepada NASA dan Amazon. Di luar ruang angkasa, kegagalan ini menjadi pengingat bahwa teknologi canggih tetap rentan terhadap kesalahan manusia, dan di dunia luar angkasa, satu ledakan bisa mengubah peta masa depan peradaban.















