Sumbawanews.com,- Lanskap ancaman siber di Indonesia dan global kini berubah drastis. Serangan yang dulu memerlukan waktu berhari-hari untuk diatur secara manual kini berjalan dalam hitungan detik, didorong oleh kecerdasan buatan yang mampu belajar, beradaptasi, dan mengeksploitasi celah tanpa henti. Menghadapi tantangan ini, F5 Indonesia menegaskan: strategi keamanan tradisional yang terpisah-pisah sudah tidak lagi cukup.
Country Manager F5 Indonesia, Surung Sinamo, menjelaskan bahwa pendekatan “best-of-breed”—di mana perusahaan memasang berbagai perangkat keamanan dari vendor berbeda di setiap lapisan jaringan, dari perimeter hingga server farm—dulu dianggap sebagai benteng ideal. “Dulu, serangan bersifat linear. Kalau satu lapisan ditembus, tim keamanan masih punya waktu untuk merespons sebelum ancaman menyebar ke lapisan berikutnya,” ujarnya dalam sesi media briefing di Jakarta, Selasa malam (9/6/2026).
Namun, era AI menghancurkan asumsi itu. Serangan kini bergerak seperti gelombang, saling terhubung, dan mampu menghindari deteksi dengan memanfaatkan pola yang tak terduga. Yang lebih berbahaya, perangkat keamanan dari vendor berbeda tidak saling berkomunikasi. Log dari satu alat tidak bisa otomatis dikorelasikan dengan data dari alat lain. “Kita harus membuka puluhan konsol, mengekstrak log satu per satu, lalu menyusun kembali kejadian secara manual. Di era AI, ini seperti mencoba menangkap peluru dengan tangan kosong,” tegas Surung.
Menjawab tantangan ini, F5 memperkenalkan Application Delivery and Security Platform (ADSP)—sebuah solusi terintegrasi yang menyatukan semua lapisan keamanan aplikasi, API, dan AI dalam satu dasbor tunggal. Dengan ADSP, perangkat seperti BIG-IP, NGINX, hingga layanan Distributed Cloud tidak lagi bekerja sendiri-sendiri. Mereka saling berbagi data secara real-time, membangun sistem umpan balik otomatis, dan merespons ancaman sebelum sempat menyebar.
Surung menekankan, ADSP bukanlah upaya F5 untuk menguasai seluruh ekosistem keamanan. “Kami tidak ingin menjadi vendor yang mengendalikan segalanya. Fokus kami spesifik: melindungi aplikasi, API, dan sistem berbasis AI—tiga pilar utama yang menjadi sasaran serangan modern.” Ia menepis kekhawatiran soal vendor lock-in, dengan menegaskan bahwa platform ini dirancang untuk berkolaborasi, bukan menggantikan infrastruktur yang sudah ada.
Dengan kecepatan serangan yang kini mencapai ratusan ribu upaya per detik, menurut Surung, tidak ada lagi ruang untuk keputusan manual atau sistem yang terfragmentasi. “Di masa depan, keamanan siber bukan lagi soal membangun tembok lebih tinggi. Tapi soal menciptakan sistem yang bisa berpikir, merespons, dan belajar—bersama.”
Bagi organisasi yang masih mengandalkan solusi terpisah, ia memberi peringatan tegas: “Anda tidak sedang menghadapi hacker. Anda sedang berperang melawan kecerdasan yang terus berkembang. Dan jika sistem Anda tidak bisa bergerak secepatnya, Anda sudah kalah sebelum pertarungan dimulai.”

















