Bakamla RI Harmonisasikan Rancangan Peraturan Lembaga Pemerintah Non-Kementerian



sumbawanews.com,- Prajurit TNI yang tergabung dalam Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Penanggulangan Bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi Palu, Sigi dan Donggala mengerahkan sejumlah Alat Berat dari Satuan Zeni Tempur (Zipur) TNI AD dibantu instansi lainnya untuk meratakan daerah yang terkena dampak likuifaksi di Balaroa, Sulawesi Tengah, Senin (22/10/2018).
Pengerahan sejumlah Alat berat ini yang dilakukan Panglima Kogasgabpad Mayjen TNI Tri Soewandono sebagai bentuk tugas yang telah diperintahkan oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P., pada saat meninjau lokasi yang terdampak likuifaksi beberapa waktu yang lalu. Agar daerah likuifaksi di Balaroa yang masih berupa puing-puing bangunan yang berserakan, untuk segera diratakan. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan rasa trauma masyarakat terhadap kejadian yang pernah menimpa mereka.
Menurut beberapa masyarakat yang berasal dari daerah tersebut, jika melihat bangunan rumah dan lingkungan yang ditempati dalam kondisi rata dengan tanah yang hanya menyisakan puing dan reruntuhan bangunan, mereka akan terngiang kembali bagaimana jeritan dan teriakan dengan penuh rasa ketakutan saat terjadi bencana likuifaksi. Dengan dibersihkannya area reruntuhan setidaknya akan menghilangkan kenangan dan rasa trauma yang memilukan.
Pada kesempatan tersebut, Penangung Jawab Clearing dan Perataan Sektor Balaroa Letkol Czi Pabate menyampaikan bahwa pengerjaan ini memerlukan operator alat berat dengan kemampuan yang bagus, karena kondisi tanah sulit diprediksi dan luas area yang akan dilakukan clearing seluas kurang lebih 84 hektar. “Kesulitan dalam meratakan adalah kondisi tanah yang labil dan berair di bagian bawah,” ucapnya.
“Sebagaimana yang dialami Bapak Abdul dari relawan yang mengoperasionalkan alat berat, dimana excavator yang digunakan terjerembab dalam lumpur. Dia tidak mengetahui bahwa kondisi tanah yang di atas tampak keras, namun di bagian bawah lunak, hingga alat berat yang dibawanya tidak bisa keluar dari lumpur sebelum dibantu excavator lain dari TNI maupun dari Kementerian ESDM,” ungkap Letkol Czi Pabate.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sulteng Longki Djanggola menyampaikan, setelah tempat ini diratakan dengan alat berat baik milik TNI dan instansi lain, area likuifaksi ini akan dijadikan area terbuka hijau dan akan dibangun monumen.(Mad/Puspen TNI)

(Puspen TNI). Pasca bencana gempa berkekuatan 7.0 skala richter pada 5 Agustus 2018 lalu, tidak hanya menghancurkan bangunan maupun infrastruktur yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat, namun juga sebagian wilayah Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat ikut terkena dampaknya.
Ratusan bahkan ribuan rumah warga yang berada di Kabupaten Sumbawa Barat, yang merupakan wilayah Sektor-3 Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nusa Tenggara Barat (NTB), nampak rusak berat dan roboh akibat bencana gempa.
Untuk meringankan beban warga, prajurit TNI dari Batalyon Zeni Tempur 9/Lang-Lang Bhuana (Yonzipur 9/LLB) Divisi Infanteri 1/Kostrad yang tergabung dalam Kogasgabpad melaksanakan perobohan dan pembersihan rumah warga yang rusak, di Dusun Jembatan Kembar, Desa Senayan, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat.
Selanjutnya untuk mempercepat pembangunan kembali rumah warga yang sudah diratakan tersebut, puluhan prajurit TNI Yonzipur 9/LLB dan warga bergotong royong membangun kembali rumah dengan jenis Konvensional dan Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA), dipimpin oleh Danton 1 SSK Yonzipur 9/LLB Lettu Czi I.B. Made Putra, Selasa (23/10/2018).
Menurut Lettu Czi I.B. Made Putra, ada dua rumah jenis Risha yang sedang dibangun, yakni rumah milik Bapak Masbhun dan Bapak Hamzah warga Dusun Jembatan Kembar. “Pengerjaan jenis Risha ini sudah dimulai sekitar tiga hari yang lalu, dan mudah-mudahan dapat diselesaikan dalam waktu 3 hari kedepan,” katanya.
Ditambahkan oleh Lettu Czi I.B. Made Putra bahwa kegiatan pembangunan kedua rumah Risha tersebut dikerjakan dengan cara gotong-royong bersama warga masyarakat setempat untuk mempercepat proses penyelesaiannya.
“Kami berharap melalui kegiatan gotong-royong dapat mendorong semangat masyarakat untuk bangkit dalam upaya membangun kembali rumahnya yang rusak secara bersama-sama,” pungkasnya. (Badar/Puspen TNI)

(Puspen TNI). Prajurit TNI yang tergabung dalam Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca gempa di Nusa Tenggara Barat, membantu penyediaan pasir untuk bahan bangunan rumah warga di Desa Sukadane, Kec. Bayan, Kab. Lombok Utara, Selasa (23/10/2018).
Dengan mengerahkan beberapa alat berat dan truk milik TNI, pasir diangkut dari sungai terdekat yang sudah mengering, selanjutnya ditempatkan di lapangan sebagai depo dan dapat digunakan oleh warga secara cuma-cuma untuk membangun rumahnya yang rusak terkena dampak gempa. (Badar/Puspen TNI)

(Puspen TNI). Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P., memimpin Pengambilan Sumpah, Penandatanganan Pakta Integritas dan Serah Terima Jabatan tiga Pejabat Teras di lingkungan Mabes TNI, bertempat di Ruang Hening Gedung Soedirman, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (22/10/2018).
Serah Terima Jabatan (Sertijab) tersebut berdasarkan Surat Perintah Panglima TNI Nomor Sprin/2700/IX/2018, tanggal 26 September 2018.

Adapun tiga Pejabat Teras Mabes TNI yang melaksanakan Sertijab, yaitu Asisten Intelijen (Asintel) Panglima TNI dari Mayjen TNI Agus Surya Bakti kepada Mayjen TNI Anjar Wiratma, Asisten Teritorial (Aster) Panglima TNI dari Mayjen TNI Kustanto Widiatmoko, M.D.A. kepada Mayjen TNI George Elnadus Supit, S.Sos., dan Kepala Pusat Informasi Pengolahan Data (Kapusinfolahta) TNI dari Marsma TNI Dadang Hermawan, M.Sc., kepada Marsma TNI Pujiyanto S., S.I.P.
Turut hadir pada acara Sertijab, diantaranya Irjen TNI Letjen TNI Muhammad Herindra, M.A., M.Sc., Danjen Akademi TNI Laksdya TNI Aan Kurnia, S.Sos., Dansesko TNI Letjen TNI (Mar) R.M. Trusono, S.Mn., Koorsahli Panglima TNI Mayjen TNI Nono Suharsono, S.I.P., M.Si., Aspers Panglima TNI Marsda TNI Dedy Permadi, S.E., M.M.D.S, Kababinkum TNI Mayjen TNI Joko Purnomo, S.H., M.H., dan Kapuspen TNI Mayjen TNI Santos G. Matondang, M.Tr.(Han). (Badar/Puspen TNI)

sumbawanews.com,- Sejumlah 115 Ibu-ibu dan Anak-anak keluarga besar Pangkalan TNI AL Palu yang menjadi korban Bencana Gempa Bumi dan Tsunami yang terjadi beberapa waktu yang lalu, mengikuti kegiatan Trauma Healing oleh Tim Psikologi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), bertempat di lapangan Tenis Lanal Palu, Senin (22/10/2018).
Kegiatan Trauma Healing ini dilaksanakan oleh Tim Psikologi TNI AL dimaksudkan untuk menghilangkan rasa trauma khususnya kepada Ibu-ibu dan anak-anak keluarga besar TNI AL, yang secara langsung mengalami dampak bencana gempa bumi dan tsunami dengan kekuatan 7,4 skala rithcer yang menimpa Kota Palu, Sigi dan Donggala Sulawesi Tengah pada tanggal 28 September 2018.
Disela-sela kegiatan tersebut, Mayor Laut (P) Dudung Hariyanto, S.Psi. selaku ketua Tim Psikologi TNI AL mengatakan bahwa kegiatan ini sebelumnya sudah dilaksanakan sebanyak 2 kali, pada tanggal 6 dan 9 Oktober 2018 kepada keluarga besar Lanal Palu dan hari ini dilaksanakan kembali kegiatan yang sama.
Menurut Mayor Laut (P) Dudung Hariyanto, kegiatan trauma healing bertujuan untuk mengurangi rasa trauma yang terjadi pada ibu-ibu dan anak-anak keluarga besar Lanal Palu, dengan melakukan game-game yang menyenangkan dan bermain dengan cara berkelompok dan berkolaborasi antara ibu dan anak. “Diharapkan dengan kegiatan ini akan cepat memulihkan psikologi mereka seperti kondisi sebelum mengalami gempa bumi dan tsunami,” jelasnya.
Sementara itu, Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Palu Kolonel Laut (P) Tommy Herlambang, S.E., mengatakan, dengan kegiatan yang dilaksanakan ini ibu-ibu dan anak-anak yang mengalami kejadian gempa bumi dan tsunami yang mengakibatkan rumah-rumah dan sekolah mereka yang roboh, kedepannya mereka bisa bangkit dan memulai kembali kegiatan sehari-hari seperti sedia kala.
Danlanal Palu Kolonel Laut (P) Tommy Herlambang berpesan kepada keluarga besar Lanal Palu yang sudah mengungsi dari Kota Palu untuk kembali ke Palu, melanjutkan kegiatan rutinnya dan segera mengurus anak-anaknya untuk kembali ke sekolah melanjutkan kegiatan belajar mengajar seperti semula, karena kondisi Palu sudah normal dan aman. (Mad/Puspen TNI)

(Puspen TNI). Ketua Umum Dharma Pertiwi Ibu Nanny Hadi Tjahjanto memberikan bantuan satu unit rumah Hunian Sementara (Huntara) kepada Ibu Kalsum (47 th), salah seorang korban bencana gempa tektonik 7.0 skala richter yang mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Minggu, 5 Agustus 2018 lalu.
“Ibu Kalsum yang juga sebagai Kepala Keluarga beserta tiga orang anaknya sampai saat ini masih tinggal di tempat pengungsian, karena rumahnya hancur akibat terdampak bencana gempa,” kata Ibu Nanny Hadi Tjahjanto di Jakarta, Senin (22/10/2018).
Selanjutnya Ibu Nanny Hadi Tjahjanto mengatakan bahwa rumah Huntara yang akan ditempati oleh Ibu Kalsum dengan empat kamar, akan dilengkapi pula dengan lemari pakaian, meja belajar untuk anak-anak, meja tamu, meja makan dan barang-barang lainnya. “Saya yang akan biayai semuanya sampai siap pakai, sehingga Ibu Kalsum beserta tiga orang anaknya tinggal menempati saja rumah tersebut,” ujarnya.

Dijelaskan pula oleh Ketua Umum Dharma Pertiwi bahwa rumah yang akan diberikan kepada Ibu Kalsum tersebut adalah salah satu dari empat rumah Huntara yang saat ini masih dalam proses pembangunan. “Keempat rumah Huntara itu berada di Dusun Karang Bedil, Desa Tanjung, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, yang dikerjakan dengan gotong royong oleh TNI dan masyarakat,” ungkapnya.
Di sisi lain, Ibu Nanny Hadi Tjahjanto menuturkan pula bahwa proses pengeboran delapan dari sembilan sumur solar sel di Nusa Tenggara Barat sudah selesai dikerjakan. Kedelapan titik pengeboran itu adalah di Desa Todo Lauk, Kec. Gangga, Desa Sigar Penjalin, Kec. Tanjung, Asrama Korem Gebang, Asrama Lanal Mataram, Asrama Lanud Rembiga, Kec. Sembalun, Kec. Seteluk, Kec. Seteluk, Sumbawa Barat.
“Satu-satunya sumur solar sel yang masih dalam proses pengeboran adalah di Kompi Bantuan, Pringgabaya yang saat ini baru mencapai 15 meter dari perkiraan 140 meter,” ucapnya.
Menurut Ibu Nanny Hadi Tjahjanto, dari delapan sumur solar sel, dua diantaranya sudah dilengkapi pompa, tower air dan fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK), dan tempat itu betul-betul sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang membutuhkannnya. Sementara itu, enam sumur solar sel masih menunggu perlengkapan guna pengoperasiannya.
“Sembilan sumur solar sel dan fasilitas lainnya yang berada di wilayah Nusa Tenggara Barat merupakan bantuan Dharma Pertiwi dan unsur-unsurnya yaitu Persit Kartik Chandra Kirana, Jalasenastri, PIA Ardhya Garini dan IKKT Pragati Wira Anggini,” kata Ibu Nanny Hadi Tjahjanto. (Badar/Puspen TNI)

sumbawanews.com,- Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) TNI Mayjen TNI dr. Ben Yura Rimba, MARS membuka secara resmi Pelatihan Biosecurity dan Biosafety 2018 yang diikuti oleh 25 Perwira Menengah dan berlangsung selama dua hari dari tanggal 22 s.d. 23 Oktober 2018, di hotel Borobudur, Jakarta, Senin (22/10/2018).
Kapuskes TNI Mayjen TNI dr. Ben Yura Rimba, MARS menyampaikan bahwa pelatihan Biosecurity dan Biosafety 2018 menjadi ajang latihan yang strategis dan efisien dalam berbagi pengetahuan, sikap dan perilaku para petugas kesehatan khususnya difasilitas kesehatan TNI terhadap pencegahan bahaya kontaminasi dan infeksi, serta mencegah terjadinya bahaya kebocoran sumber infeksi patogen.
Lebih lanjut Kapuskes TNI Mayjen TNI dr. Ben Yura Rimba, MARS mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan kelanjutan dari kerjasama antara Indonesia dan Amerika Serikat dibidang kesehatan militer, dan merupakan perwujudan dari Global Health Security Agenda (GHSA) yang dicanangkan tahun 2014. TNI sangat mendukung kegiatan GHSA ini sehingga dalam visi dan misi, TNI senantiasa ikut serta dalam “protect, detect, and respond” Kejadian Luar Biasa (KLB) yang ada di Indonesia.
Pada kesempatan tersebut Mayjen TNI dr. Ben Yura Rimba, MARS juga menyampaikan apresiasi yang setinggi tingginya atas kehadiran Atase Pertahanan (ATHAN) Amerika untuk Indonesia Kolonel Michael D. Spake, dan para instruktur yang berasal dari Amerika Serikat dan Indonesia. Pelatihan Biosecurity dan Biosafety 2018 juga bertujuan untuk menguatkan kerjasama dan persahabatan kedua negara dan kedua Angkatan Bersenjata khususnya.
Sementara itu Country manager Indonesia Engagement Cooperative Biological Engagement Program Defense Threat Reduction Agency Departement Pertahanan Amerika Serikat Mr. Jhon Schaefer menyampaikan dalam rangka kerjasama antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam kerangka United States Indonesia Bilateral Defense Dialog (USIBDD) merupakan suatu bagian kolaborasi yang memiliki kepentingan bersama dalam rangka untuk meningkatkan keamanan keselamatan kesehatan secara global.
Selanjutnya Mr. Jhon Schaefer mengatakan bahwa pelatihan Biosecurity dan Biosafety 2018 menghadirkan ahli-ahli profesional dari medis dan juga laboratorium yang memiliki suatu pemahaman dan pandangan internasional dalam hal keamanan dan prinsip-prinsip keselamatan biologis.

sumbawanews.com,- Sesuai dengan laporan yang kami terima dari jajaran bahwa betul telah terjadi penyekapan terhadap para guru dan tenaga medis yang bertugas di Mapenduma oleh KKSB pimpinan Egianus Kogeya sejak tanggal 3 Oktober hingga 17 Oktober 2018. Kata Kapendam XVII/Cend Kolonel Inf Muhammad Aidi saat dikonfirmasi oleh Media.
Salah seorang korban berinisial MT memberikan keterangan kepada kami terkait Kejadian penyekapan dan pemerkosaan terhadap Tenaga Guru dan Tenaga Kesehatan di distrik Mapenduma Kabupaten Nduga, Papua.
Sdri MT menjelaskan bahwa mereka adalah rombongan pertama yang masuk ke Distrik Mapenduma pada hari Rabu tanggal 3 Oktober 2018 bersama-sama dengan 3 rekan lainya antara lain : EL (guru SD) suku Flores, LY (guru SMP) suku Toraja dan FN (guru SMP suku Paniai. Mereka ditugaskan oleh Dinas Pendidikan Kab. Nduga untuk memberikan pelayanan pendidikan di Distrik Mapenduma.
Pada saat mereka tiba di Bandara Mapenduma sdri MT bersama 3 rekanya disambut dan dikepung oleh Pok KKSB lengkap dengan senjata api berbagai jenis. Setelah pesawat jenis Caravan yang ditumpangi sdri MT dan rekan-rekanya meninggalkan Bandara Mapenduma, Pimpinan dari KKSB mengambil alih pasukan. Mereka mengumpulkan dan melakukan pemeriksaan dan penggeledahan terhadap sdri MT dkk. “Mereka menyita HP dan KTP. Kami tidak tahu persis berapa jumlah mereka tapi kami perkirakan diatas 20 orang,” MT menuturkan.
Setelah dikumpulkan dan dilakukan pemeriksaan sdri MT bersama rekannya diarahkan oleh Kepala Sekolah untuk tinggal di perumahan guru. Saudara MT menempati sebuah rumah bersama 2 orang temannya. Pimpinan KKSB menyampaikan bahwa tenaga guru dan tenaga kesehatan tidak boleh keluar rumah sebelum acara KKSB di distrik Mapenduma selesai. Tidak diketahui acara apa yang dimaksud.
Sdri MT menyampaikan bahwa Sekitar 1 minggu (lupa hari dan tanggalnya) semenjak mereka disekap. Suatu malam sekitar pukul 00.30 wit telah datang ke tempat tinggal sdri MT anggota KKSB sebanyak 7 orang yang tidak dikenal dengan cara mencongkel jendela belakang rumah dan masuk ke dalam rumah yang ditempati sdri MT dan 2 orang temannya.
Anggota KKSB berjumlah 7 orang masuk ke rumah, mereka langsung memadamkan listrik rumah dan pada saat itu dalam kondisi hujan deras, sdri MT dan teman-temannya sudah berupaya berteriak dan meminta pertolongan karena merasa takut, namun tidak ada yang mendengar. “Kami diancam dengan todongan senjata dan diperkosa secara bergilir oleh 5 orang dari 7 anggota KKSB tersebut,” MT mengisahkan.
Sekitar Pukul 03.30 WIT Anggota KKSB baru meninggalkan rumah. Pada pagi harinya MT melaporkan kepada kepala sekolah apa yang telah dialami semalam bersama temanya di rumah guru tempat mereka disekap.
Setelah kejadian tersebut para guru dan tenaga kesehatan dikumpulkan dan diungsikan ke perumahan Puskesmas Distrik Mapenduma. Dimana ditempat tersebut sudah ada yang lain dengan rincian Guru SMP sejumlah 6 orang, Guru SD sejumlah 3 orang, dan Tenaga Kesehatan perempuan sejumlah 4 orang, sedangkan Saya bertiga dengan teman. “Jadi jumlah seluruhnya 16 orang,” MT menuturkan.
Setelah berselang 1 minggu tepatnya pada hari Kamis tanggal 18 Oktober para tenaga guru dan tenaga kesehatan dipulangkan menuju Wamena dengan dikawal oleh KKSB lengkap dengan senjatanya sampai ke Bandara Mapenduma.
Sebelum mereka naik pesawat pimpinan KKSB mengancam akan membunuh semua tenaga guru dan tenaga kesehatan apabila ada yang melapor ke pihak Aparat Keamanan.
“Sesusai dengan data yang kami himpun, pelaku penyekapan adalah KKSB Pimpinan Egianus Kogeya, yang bersangkutan masih hubungan keluarga dengan almahrum Kelly Kwalik pelaku penyanderaan terhadap tim Lorentz tahun 1995/1996 di Mapenduma,” Aidi menuturkan.
Kelompok Egianus Kageya juga adalah pelaku penembakan pesawat dan pembantaian terhadap masyarakat sipil termasuk anak kecil di Nduga beberapa waktu yang lalu.
Ditanya tentang langkah-langkah dilakukan aparat keamanan menyikapi kasus ini, Aidi menjelaskan bahwa aparat keamanan pasti akan melakukan tindakan, namun mekanismenya tidak perlu disampaikan ke publik. “Kan Pangdam dan Kapolda sudah membentuk Satgas Penegakkan Hukum (Satgas Gakkum). Hal ini demi menjamin kepastian dan kewibawaan hukum di wilayah kedaulatan NKRI,” Aidi menjelaskan.
Ini adalah tindakan keji dan biadab yang tidak berprikemanusiaan. “Mereka (red. Korban) adalah pekerja sosial, mereka rela meninggalkan kampung halaman dan keluarga demi untuk mensejahterahkan dan memajukan masyarakat pedalaman Papua. Tapi mereka justru mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi,” Aidi menyesalkan.

(Puspen TNI). Pasca bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu, kondisi wilayah dan korban berangsur sudah membaik. Penanganan terhadap para korban dan pendistribusian logistik serta pelayanan kesehatan berjalan dengan lancar.
Memasuki hari ke-25 masa tanggap darurat bencana, prajurit TNI yang tergabung dalam Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) mendirikan shelter-shelter pengungsian yang berada di wilayah Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Hal tersebut dikatakan Panglima Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Mayjen TNI Tri Soewandono, saat melaksanakan briefing kepada pelaksana teknis lapangan rekonstruksi wilayah Sulteng, bertempat di Markas Komando Resort Militer 132/Tadulako (Makorem 132/Tadulako), Kota Palu, Sulteng, Senin (22/10/2018).
Menurut Mayjen TNI Tri Soewandono, pendirian shelter untuk pengungsi dilakukan sambil menunggu pembangunan Hunian Sementara (Huntara) selesai. Shelter ini didirikan dengan tujuan untuk merelokasi pengungsi yang tersebar di beberapa tempat dan menyulitkan dalam pelayanan pendistribusian bantuan.
“Bahan shelter ini bantuan dari asing dan didirikan bersifat sementara berbentuk tenda dilengkapi Mandi, Cuci, Kakus (MCK), air bersih, pos pelayanan kesehatan dan area trauma healing sekaligus sebagai sekolah lapangan bagi anak-anak,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan pendirian shelter bagi pengungsi, TNI mengerahkan Batalyon Zeni Tempur 8/Sakti Mandra Guna (Yonzipur 8/SMG) Kodam XIV/Hasanuddin dan Batalyon Zeni Tempur 17/Ananta Dharma (Yonzipur 17/AD) Kodam VI/Mulawarman serta Detasemen Zeni Tempur 8/Gawi Manuntung (Denzipur 8/GM) Kodam VI/Mulawarman yang ahli di bidang konstruksi, bekerjasama dengan Polri, Kementerian PUPR, Perguruan Tinggi berbagai yayasan dan relawan.
Selanjutnya Pangkogasgabpad menyampaikan bahwa koordinasi antar pelaksana teknis lapangan sangat diperlukan dari semua pihak yang terlibat dalam penanganan bencana di Palu, Donggala dan Sigi, agar setiap kendala yang ada cepat diatasi.
“Kogasgabpad akan selalu menginisiasi pertemuan dan berkoordinasi secara terus menerus dengan pihak Kementerian, PLN, PDAM, Unsur Geologi, Pemda dan pihak lain untuk kelancaran pelaksanaan tugas,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Panglima Kogasgabpad menyampaikan apresiasi kepada Tim dari Kementerian PUPR yang sudah mendesain konsep Huntara dengan mempertimbangkan kebutuhan dasar pengungsi. “Semoga apa yang kita lakukan bisa membantu masyarakat Palu, Donggala dan Sigi untuk kembali pulih dan membangun untuk kesejahteraan rakyat,” pungkasnya. (Badar/Puspen TNI)