Home Berita Nasional Aliansi Perempuan Bawa Alat Dapur di Aksi, Ini Alasannya

Aliansi Perempuan Bawa Alat Dapur di Aksi, Ini Alasannya

Sumbawanews.com,- Di tengah hujan deras yang membasahi lapangan, ratusan perempuan dari berbagai organisasi masyarakat membawa peralatan dapur—wajan, sendok kayu, pisau, dan panci—sebagai simbol perlawanan damai dalam aksi protes di Jakarta. Mereka bukan sedang memasak, tapi menyampaikan pesan: “Kami tidak akan diam, meski harus memasak di tengah tekanan.”

Aliansi Perempuan untuk Keadilan, koalisi yang terdiri dari aktivis, ibu rumah tangga, pekerja migran, dan tokoh perempuan lintas agama, menggelar aksi ini sebagai respons terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai mengabaikan kebutuhan dasar perempuan, terutama di sektor pangan, pendidikan, dan perlindungan sosial. “Kami tidak membawa bendera, tapi peralatan dapur. Karena di situlah perjuangan kami dimulai—di meja makan, di dapur, di setiap nasi yang kami masak untuk keluarga,” ujar Ibu Siti, koordinator aksi sekaligus ibu dari empat anak yang bekerja sebagai pedagang keliling.

Aksi ini sengaja dirancang untuk menyoroti krisis pangan yang semakin menghimpit rumah tangga miskin. Data Kementerian Sosial menunjukkan, lebih dari 12 juta keluarga di Indonesia kini mengalami ketidakamanan pangan, dengan perempuan menjadi penanggung jawab utama pemenuhan gizi anak. “Ketika harga beras naik, kami yang mengurangi porsi makan. Ketika listrik padam, kami yang memasak dengan kayu bakar. Tapi ketika kebijakan salah, kami justru disuruh diam,” tambah Ibu Siti.

Para peserta aksi juga membawa spanduk bertuliskan “Dapur Kami Bukan Tempat Kompromi” dan “Kami Masak, Bukan Minta Belas Kasihan.” Beberapa di antaranya bahkan memasak nasi goreng di lokasi aksi, sebagai simbol ketahanan dan kemandirian. “Ini bukan pertunjukan. Ini adalah pernyataan: kami tidak butuh simpati, tapi keadilan sistemik,” kata Rina, seorang aktivis dari gerakan perempuan pedesaan.

Pemerintah belum memberikan tanggapan resmi terhadap aksi ini. Namun, sejumlah anggota DPR dari fraksi oposisi menyatakan dukungan, menilai aksi tersebut sebagai bentuk demokrasi yang kreatif dan manusiawi. “Ini adalah bentuk protes paling jujur yang pernah saya lihat—tanpa kekerasan, tanpa kebencian, hanya dengan alat yang sehari-hari mereka gunakan untuk bertahan hidup,” ujar Anggota DPR dari Fraksi PKB, yang hadir secara pribadi sebagai pengamat.

Aksi berlangsung tertib hingga sore hari. Setelah memasak dan membagikan nasi goreng gratis kepada pengunjung jalan, para perempuan itu perlahan membungkus peralatan dapur mereka—seolah menutup sesi, tapi tidak menutup perjuangan. “Besok, kami akan kembali. Dengan panci yang sama. Dengan semangat yang lebih besar,” ucap Ibu Siti, sambil menatap langit yang mulai cerah.

Previous articleAS dan Iran Tetap Bertemu di Swiss Meski MoU Sudah Diteken
Next articleNASA dan Relativity Space Siap Kirim Orbiter ke Mars
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.