Sumbawanews.com,- Tidak ada duel di babak perdelapan besar Piala Dunia 2026 yang lebih penuh makna emosional daripada pertemuan antara Timnas Aljazair dan Timnas Swiss. Di sisi lapangan, Vladimir Petkovic—pelatih Aljazair—akan menghadapi tim yang selama tujuh tahun menjadi bagian dari hidupnya: Swiss.
Dari 2014 hingga 2021, Petkovic memimpin Die Nati dengan prestasi gemilang: mengantarkan mereka ke perempat final Piala Eropa 2020, serta memastikan keberadaan konsisten di putaran final Piala Dunia dan Euro. Ia membina pemain-pemain kunci seperti Granit Xhaka, Ricardo Rodriguez, dan Manuel Akanji—para bintang yang kini siap menghadapinya sebagai lawan.
Meski mengenal setiap gerak, setiap kekuatan, dan setiap kelemahan skuad Swiss, Petkovic tetap menutupi rasa haru di balik wajah tenangnya. “Swiss adalah tim yang tangguh, pemainnya mumpuni, dan saya kenal mereka dengan sangat baik,” ujarnya kepada wartawan, tanpa sedikit pun mengungkapkan kerinduan atau luka yang mungkin menghantui.
Jejaknya di Heidiland tak sepenuhnya manis. Meski sukses, kepergiannya meninggalkan ketegangan yang tak sepenuhnya reda. Kini, ia berdiri di sisi berlawanan—bukan sebagai arsitek, tapi sebagai lawan yang harus dihancurkan. Dan di tengah gemuruh stadion, di antara sorak suporter yang membara, Petkovic akan berusaha menang—bukan hanya untuk Aljazair, tapi juga untuk membuktikan bahwa cinta terhadap sepak bola tak pernah memihak pada masa lalu.
Pertandingan ini bukan sekadar laga perdelapan besar. Ini adalah pertemuan antara seorang pelatih dengan kenangan terdalamnya—dan ia harus memilih: hati atau taktik?














