Sumbawanews.com,- Tersingkir dari Piala Dunia 2026 dengan dua kekalahan telak, timnas Tunisia tak hanya menelan kegagalan di lapangan, tapi juga terpuruk dalam kekacauan manajerial. Bek andalan Ali Abdi, yang baru saja menyelesaikan laga melawan Jepang dengan skor 0-4, tak bisa menahan emosinya. Dalam wawancara pasca-laga, ia menangis sambil mengecam keputusan Federasi Sepakbola Tunisia (TFF) yang seenaknya mengganti pelatih di tengah turnamen.
Awalnya, Tunisia datang ke Piala Dunia sebagai juara Grup H di kualifikasi Afrika—rekor impresif dengan sembilan kemenangan dan satu imbang dalam 10 laga, mencetak 22 gol tanpa kebobolan. Semua itu diraih di bawah arahan Sami Trabelsi, pelatih yang justru dipecat pada Januari 2026 setelah tim gagal melaju ke final Piala Afrika 2025, kalah adu penalti dari Mali.
Kepemimpinan Trabelsi digantikan oleh Sabri Lamouchi, yang hanya bertahan lima laga. Setelah kekalahan 1-5 dari Swedia di laga pembuka, Lamouchi langsung dipecat. TFF lalu menunjuk Hervé Renard, pelatih legendaris yang pernah membawa Pantai Gading dan Prancis menjuarai Piala Afrika. Tapi keajaiban tak datang. Dalam dua pertandingan, Tunisia kebobolan sembilan gol tanpa mencetak satupun.
“Kami tidak punya waktu untuk menjadi tim,” ujar Abdi, bek yang membela Nice di Ligue 1. “Kami datang ke sini dengan pemain yang belum pernah bermain bersama. Sementara tim-tim seperti Jepang—mereka punya konsistensi sejak 2022. Anda tidak bisa membangun tim seperti membangun rumah dari nol setiap kali ada turnamen.”
Abdi menegaskan, kemarahan bukan hanya pada pelatih yang berganti-ganti, tapi pada sistem yang mengabaikan stabilitas. “Saya minta maaf kepada para suporter. Tapi saya tidak minta maaf pada mereka yang menyebar rumor tanpa dasar. Ini bukan soal kepentingan pribadi—ini soal kehormatan negara.”
Kegagalan Tunisia di Piala Dunia 2026 bukan sekadar kekalahan olahraga. Ini adalah cerminan dari krisis struktural: manajemen yang impulsif, ketiadaan visi jangka panjang, dan pengabaian terhadap kebutuhan dasar tim nasional—konsistensi, kepercayaan, dan waktu.
Dengan dua kekalahan telak dan reputasi yang hancur, Tunisia kini harus menjawab pertanyaan lebih besar: apakah mereka ingin menjadi tim yang dihormati, atau sekadar tim yang sering berubah pelatih?















