Home Berita Olah Raga Maroko Pandang Kebijakan Bertahan Belanda sebagai Tanda Hormat

Maroko Pandang Kebijakan Bertahan Belanda sebagai Tanda Hormat

Sumbawanews.com,- Pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Guadalupe berakhir dengan kekalahan menyakitkan bagi Belanda, 3-2 lewat adu penalti, setelah berakhir 1-1 dalam waktu normal dan perpanjangan. Namun, yang lebih menarik dari skor adalah reaksi tim Maroko terhadap taktik lawan mereka: pertahanan ketat yang dipilih Belanda sejak menit pertama.

Meski tertinggal lebih dulu melalui gol Cody Gakpo di babak pertama, Singa Atlas tidak tergoyahkan. Mereka bangkit dengan penuh percaya diri, menyamakan kedudukan lewat gol terlambat di masa injury time, lalu bertahan keras hingga babak tambahan. Dalam 120 menit, Maroko menguasai jalannya pertandingan: 11 tembakan dibanding hanya enam milik Belanda, lima di antaranya tepat sasaran, sementara lawan hanya mampu mengarahkan dua bola ke gawang.

Pelatih Belanda Ronald Koeman membela keputusannya menurunkan lima pemain bertahan, mengatakan itu strategi necessary demi membatasi keunggulan teknis Maroko. Tapi bagi pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, pendekatan itu bukan taktik cerdas—melainkan pengakuan akan kekuatan timnya.

“Saya tidak menyangka Belanda akan main blok rendah. Mereka biasanya bermain menguasai bola, menyerang dengan agresif,” ujar Ouahbi. “Tapi saya melihat ini sebagai bentuk rasa hormat. Mereka tahu kami bukan lawan sembarangan.”

Kemenangan ini bukan keberuntungan. Maroko, yang finis keempat di Piala Dunia 2022, kembali menunjukkan kematangan dan ketahanan mental. Di bawah tekanan, mereka tetap tenang, terorganisir, dan berbahaya saat transisi. Kiper Yassine Bounou menjadi pahlawan di adu penalti, menyelamatkan dua tembakan Belanda, termasuk tendangan penentu yang gagal dilakukan Andries Noppert.

Kini, Maroko melaju ke babak 16 besar menghadapi Kanada—tim yang diunggulkan secara statistik. Tapi Ouahbi tak peduli pada prediksi. “Kami datang untuk bermain sepak bola versi kami. Tidak ada yang tak terkalahkan. Jika kami salah, kami pulang. Tapi kami yakin: kami pantas ada di sini.”

Kemenangan ini bukan sekadar kelanjutan sejarah. Ini adalah pernyataan: Maroko bukan lagi tim underdog yang beruntung. Mereka adalah kekuatan yang membuat tim-tim besar memilih bertahan—karena takut kalah, bukan karena ingin menang.

Previous articleAmad Diallo Sorakkan Pantai Gading dengan Gol Spektakuler di Menit ke-74
Next articleNorwegia Kalahkan Pantai Gading 2-1, Haaland Bawa Timnya ke 16 Besar