Sumbawanews.com,- FIFA menyatakan menanggapi serius dugaan pemerkosaan terhadap kapten tim nasional Cape Verde, Ryan Mendes, meskipun pemain berusia 36 tahun itu tetap diperbolehkan bermain di Piala Dunia 2026. Kasus ini muncul setelah korban, seorang penerjemah asal Brasil, melaporkan bahwa ia menjadi sasaran kekerasan seksual di sebuah hotel di Selandia Baru pada Maret lalu, saat kedua pihak berada dalam rangkaian pertandingan FIFA Series.
Laporan awal telah disampaikan kepada federasi sepak bola Cape Verde, sebelum akhirnya dilanjutkan ke otoritas kepolisian Selandia Baru. Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung, dan belum ada tuntutan resmi maupun penangkapan terhadap Mendes. Namun, ia tetap tampil penuh dalam ketiga laga fase grup Cape Verde melawan Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi, dan menjadi tokoh kunci di balik keberhasilan timnya lolos ke babak 32 besar sebagai juara grup H—rekor pertama dalam sejarah tim nasional itu di Piala Dunia.
Ryan Mendes, yang memegang rekor 101 caps dan 22 gol sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Cape Verde, kini menjadi pusat kontroversi di tengah momen paling gemilang karier timnya. Timnas Cape Verde akan menghadapi juara bertahan Argentina pada Sabtu, 4 Juli 2026, di Miami. Pertanyaan besar pun muncul: apakah Mendes akan tetap dimainkan dalam laga penentuan nasib itu?
FIFA, melalui juru bicaranya, menegaskan bahwa organisasi memiliki prosedur baku untuk menangani setiap laporan pelanggaran kejahatan seksual dalam sepak bola. Namun, pihaknya menolak memberikan komentar lebih lanjut mengenai status Mendes, dengan alasan proses hukum yang sedang berjalan di Selandia Baru. Sikap ini memicu perdebatan di kalangan pengamat: apakah keadilan harus menunggu putusan pengadilan, atau seharusnya institusi olahraga mengambil tindakan preventif demi menjaga integritas kompetisi?
Kasus ini menjadi ujian berat bagi FIFA yang tengah berusaha memperkuat citra sebagai lembaga yang berkomitmen pada keselamatan dan hak asasi manusia. Sementara itu, Cape Verde dan para pendukungnya tetap mempertahankan dukungan terhadap Mendes, dengan alasan praduga tak bersalah yang menjadi landasan hukum dasar. Di tengah sorotan global, sepak bola kembali dihadapkan pada dilema antara prestasi dan moral.















