Sumbawanews.com,- Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia 2026, Jeremy Doku, winger andalan Timnas Belgia, memilih meninggalkan lapangan demi ruang persalinan. Keputusan pribadinya yang sederhana—hadir di sisi istri saat anak pertama mereka lahir—berubah menjadi badai kritik, memicu perdebatan global tentang batas antara profesionalisme dan kemanusiaan.
Pemain berusia 24 tahun itu secara terbuka mengungkapkan niatnya sebelum laga pembuka Belgia melawan Mesir pada 16 Juni 2026. “Tidak ada ayah yang ingin melewatkan momen pertama kali memegang tangan bayinya,” ujar Doku dalam wawancara dengan media Belgia. Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA), yang telah dilibatkan sejak awal, memberi izin khusus setelah mendengar permohonan jujur sang pemain.
Namun, keputusan itu tak serta-merta diterima. Kritik tajam datang dari berbagai penjuru. Mantan pelatih masa muda Doku, Peter Janssens, menyebut keputusan itu “tidak profesional”, menegaskan bahwa Piala Dunia adalah puncak karier yang tak bisa diulang. Lebih pedas lagi, presenter televisi Prancis France Pierron menyatakan di siaran langsung bahwa “kehadiran suami di ruang bersalin adalah simbol egoisme, bukan cinta.” Komentar itu langsung memicu kemarahan luas di media sosial, hingga stasiun televisi tersebut terpaksa meminta maaf dan menangguhkan Pierron dari tugasnya.
Di tengah badai itu, Doku tak bergeming. Ia memilih berangkat dari pemusatan latihan di Los Angeles menuju London, tempat istrinya, Shireen Doku, telah menunjukkan tanda-tanda bersalin. Ia tiba tepat sebelum laga Belgia melawan Iran pada 22 Juni, dan tak lama setelah itu, keluarga kecil mereka menyambut bayi laki-laki yang sehat.
Dukungan pun mengalir dari seluruh dunia. Para ibu, ayah, dan bahkan mantan pemain sepak bola mengapresiasi keberanian Doku. “Ini bukan soal meninggalkan tim,” tulis salah satu penggemar di Twitter. “Ini soal menjadi manusia di tengah mimpi besar.”
RBFA, yang sebelumnya dihujani tekanan dari pihak-pihak yang menganggap keputusan Doku mengganggu dinamika tim, justru memuji sikapnya sebagai contoh kepemimpinan moral. “Kami mendukung keputusan Jeremy bukan karena ia pemain, tapi karena ia manusia,” ujar perwakilan federasi dalam pernyataan resmi.
Kini, Doku kembali bergabung dengan skuad Belgia—tak lagi sebagai pemain yang dikritik, tapi sebagai simbol bahwa di balik jersey dan nama besar, ada hati yang berdetak lebih keras daripada sorak stadion. Ia tak kehilangan momen Piala Dunia: ia justru menangkap momen yang jauh lebih abadi.
Belgia masih berjuang di turnamen. Tapi bagi banyak orang, kemenangan sejati justru terjadi jauh dari lapangan—di sebuah kamar bersalin di London, di mana seorang ayah memilih untuk hadir, bukan hanya sebagai pemain, tapi sebagai manusia.















