Sumbawanews.com,- Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) secara resmi mengutuk pernyataan keras Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, Markwayne Mullin, yang merayakan tersingkirnya Timnas Iran dari Piala Dunia 2026 dengan komentar bernada sindiran. Perkataan Mullin yang menyebut tim Iran sebagai “delegasi paling menyita perhatian aparat” memicu kemarahan di kalangan pejabat dan suporter Iran, memperdalam ketegangan politik yang sudah berlangsung sejak awal turnamen.
Iran gagal melaju ke babak 32 besar setelah finis di Grup D dengan dua hasil imbang—1-1 melawan Belgia dan 1-1 melawan Selandia Baru. Harapan lolos sempat menyala ketika Shoja Khalilzadeh mencetak gol pada menit ke-89 melawan Mesir, namun gol itu dianulir oleh VAR karena posisi offside yang kontroversial dan hampir tak terlihat. Peluang Iran sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik pun pupus saat Austria mencetak gol penyamakan pada menit ke-96 melawan Aljazair, menghancurkan harapan terakhir Team Melli.
Sejak awal kompetisi, tim Iran telah menghadapi hambatan logistik yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Piala Dunia. Pemerintah AS menolak memberi izin tim untuk menetap di wilayahnya, memaksa skuad besutan pelatih Amir Ghalenoei untuk bolak-balik antara AS dan Meksiko demi menjalani pertandingan. Federasi Iran mengajukan protes resmi ke FIFA, sementara Ghalenoei secara terbuka menyebut timnya sebagai “yang paling tertindas” di turnamen itu. Kapten Mehdi Taremi juga tak segan mengkritik kebijakan AS dan FIFA, menilai perlakuan terhadap timnya sebagai bentuk diskriminasi politik yang menyamar sebagai aturan teknis.
Ketegangan mencapai puncaknya setelah Mullin, salah satu sekutu dekat Presiden Donald Trump, mengunggah pernyataan di media sosial yang dianggap merendahkan. “Senang mereka tidak akan kembali ke Amerika,” tulis Mullin, menambahkan bahwa tim Iran “telah menjadi fokus utama keamanan selama dua minggu.” Pernyataan itu langsung mendapat respons tajam dari otoritas sepak bola Iran, yang menyebut komentar tersebut sebagai “penghinaan politik yang tak termaafkan” dan “melanggar semangat olahraga.”
Kritik terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat juga semakin menguat. Banyak pihak menyoroti ketidakadilan logistik, kebijakan visa yang diskriminatif, dan sikap otoriter aparat keamanan terhadap delegasi dari negara-negara yang menjadi sasaran sanksi AS. Sejumlah mantan pemain dan pelatih dari Eropa dan Asia menyatakan simpati, menyebut Iran sebagai korban sistem yang lebih besar daripada sepak bola.
Dalam konteks geopolitik yang sudah rapuh, insiden ini berpotensi memperdalam polarisasi antara Iran dan AS—bukan hanya di lapangan hijau, tapi juga di kancah internasional. Bagi sebagian suporter Iran, kegagalan tim mereka bukan sekadar kekalahan olahraga, melainkan simbol dari ketidakadilan yang terus mereka alami di panggung global.














