Sumbawanews.com,- Korea Selatan resmi tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah finis di peringkat ketiga Grup A dengan tiga poin, gagal melaju ke babak 32 besar meski sempat menang atas Ceko. Kegagalan ini memicu gelombang kemarahan publik, yang tak hanya menyasar tim, tapi juga pelatih kepala Hong Myung-bo.
Dalam konferensi pers pascakekalahan, gambar Hong yang berusia 57 tahun diburamkan secara sengaja dalam siaran langsung KBS, stasiun televisi nasional. Fenomena itu langsung viral, memicu spekulasi luas bahwa tindakan itu adalah bentuk sindiran terhadap kegagalan strategi pelatih yang memimpin tim sejak 2022. Hingga kini, KBS belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan penggunaan efek blur tersebut.
Kemarahan publik tak berhenti di layar kaca. Di sejumlah kota, minimarket GS25 dan restoran BBQ memasang papan bertuliskan “Hong Myung-bo No Entry” — simbol kekecewaan yang kemungkinan besar berasal dari aksi spontan suporter, meski belum dikonfirmasi oleh pemilik usaha.
Korea Selatan datang ke turnamen dengan harapan besar. Dengan format baru 48 tim, publik yakin Taeguk Warriors bisa melangkah jauh. Namun, kekalahan 0-1 dari Afrika Selatan dan 1-2 dari Meksiko menghancurkan peluang lolos, meski sempat menanti hasil pertandingan lain demi slot delapan tim peringkat ketiga terbaik.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, ikut angkat bicara. “Saya tidak hanya terkejut, tapi sangat bingung,” ujarnya. “Keputusan personel menentukan segalanya. Jika loyalitas dan kepentingan kelompok diutamakan daripada kompetensi, hasilnya sudah bisa ditebak.” Ia pun meminta investigasi menyeluruh terhadap manajemen tim nasional.
Di tengah tekanan yang tak tertahankan, Hong Myung-bo mengumumkan pengunduran dirinya. “Saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Korea yang mencintai tim ini. Tanggung jawab atas kegagalan ini sepenuhnya ada di pundak saya,” ucapnya dalam pernyataan resmi. Ia menegaskan, meski mundur dari jabatannya, cintanya pada sepak bola Korea tidak akan pernah berubah.
Ini adalah kali kedua Hong gagal membawa Korea Selatan melewati fase grup. Sebelumnya, ia mengalami nasib serupa di Piala Dunia 2014 di Brasil. Kini, dengan kepergiannya, sejarah kembali mencatat nama pelatih legendaris yang pernah memimpin timnas meraih peringkat empat pada 2002 — tapi kini harus mengakhiri masa kepelatihannya dalam duka.















