Sumbawanews.com,- Kegagalan Timnas Indonesia tersingkir dari Piala AFF 2026 bukan sekadar hasil dari performa buruk di lapangan, melainkan puncak dari akumulasi masalah sistemik yang telah lama menggerogoti manajemen tim nasional. Pengamat sepak bola nasional Abdul Haris atau Bung Ais menilai, persoalan utama bukan pada kurangnya pemain berkualitas, melainkan ketidakmampuan pelatih John Herdman dalam memaksimalkan potensi skuad dan menyesuaikan taktik dengan karakter sepak bola Asia Tenggara. Dalam wawancara di program Morning Zone Okezone pada Senin, 10 Agustus 2026, Bung Ais menekankan bahwa Indonesia memiliki banyak pemain individu mumpuni, namun gagal diterjemahkan menjadi konsistensi tim.
Bung Ais menyoroti kegagalan Herdman membaca dinamika turnamen regional, meski tim menunjukkan performa menjanjikan dalam laga uji coba sebelum turnamen—mencetak delapan gol dan hanya sekali kalah dari Bulgaria. Namun, saat menghadapi lawan-lawan di Piala AFF 2026, pola permainan yang monoton—terlalu mengandalkan build-up dari belakang dan umpan silang ke Mitchell Baker—dengan mudah dibaca dan dinetralisir lawan. Tidak ada rencana cadangan yang siap diterapkan saat skema utama gagal, membuat tim kehilangan arah dan kreativitas serangan.
Lini pertahanan yang rapuh, terutama dalam menghadapi serangan balik cepat melalui sayap, juga menjadi catatan merah yang tak kunjung diperbaiki, bahkan saat menghadapi Vietnam setelah sebelumnya sama-sama kewalahan melawan Timor-Leste. Manajemen pertandingan yang buruk, termasuk pergantian pemain yang terlambat, semakin memperparah kekacauan di lapangan.
Di luar taktik, kontroversi pemilihan skuad menjadi sorotan tajam. Bung Ais menilai pengabaian terhadap pemain berpengalaman seperti Ricky Kambuaya, Adam Alis, dan Teja Paku Alam membuat kedalaman tim sangat terbatas. Pemain senior seperti Thom Haye dipaksa bermain terus-menerus tanpa pengganti yang sepadan, memperbesar risiko kelelahan dan kesalahan. Di sisi psikologis, mentalitas tim terlihat runtuh saat tertinggal—fighting spirit hilang, kepanikan merajalela, dan kepercayaan diri yang kian menurun dibanding era sebelumnya.
Semua faktor ini—taktik yang kaku, manajemen krisis yang buruk, skuad yang tidak seimbang, dan mentalitas yang lemah—berkumpul menjadi satu kegagalan besar. Bung Ais menegaskan, evaluasi mendalam harus dilakukan bukan hanya pada individu pemain, tetapi pada seluruh cetak biru pengelolaan tim nasional. Tanpa perubahan struktural, kegagalan seperti ini akan terus berulang.















