Sumbawanews.com,- Pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Ekuador di Mexico City sempat tertunda satu jam pada Rabu, 1 Juli 2026, akibat badai petir yang mengguyur stadion. Meski kondisi cuaca ekstrem memaksa tim-tim menunda sesi pemanasan demi keselamatan, FIFA memutuskan tidak memberlakukan jeda minum (cooling break) selama pertandingan berlangsung.
Keputusan ini mengejutkan sejumlah pihak, mengingat suhu tinggi dan cuaca tak menentu telah menjadi tantangan berulang sepanjang penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di berbagai kota tuan rumah. Namun, otoritas sepak bola dunia tetap berpegang pada protokol yang sudah ditetapkan, dengan alasan bahwa penundaan kick-off selama satu jam dianggap cukup untuk memberi waktu bagi kondisi lapangan dan udara membaik.
Pertandingan akhirnya dimulai setelah cuaca dinyatakan aman, dengan kedua tim tetap berlaga untuk memperebutkan satu tiket ke babak 16 besar. Meksiko, sebagai tuan rumah, berharap dukungan publik lokal bisa mengangkat semangat timnya, sementara Ekuador berusaha membuktikan ketahanan fisik dan mental di tengah tekanan iklim yang keras.
FIFA menegaskan bahwa kebijakan penghapusan cooling break tidak terkait dengan tekanan waktu atau jadwal, melainkan berdasarkan evaluasi teknis terhadap durasi penundaan dan kondisi lingkungan saat pertandingan dimulai. Keputusan ini pun memicu perdebatan di kalangan pelatih dan pemain, terutama yang berasal dari negara beriklim panas, yang sebelumnya mengandalkan jeda minum sebagai upaya pencegahan dehidrasi dan kelelahan ekstrem.
Dengan ini, Piala Dunia 2026 kembali menjadi sorotan bukan hanya karena performa di lapangan, tetapi juga kebijakan-kebijakan kontroversial yang menguji keseimbangan antara keselamatan atlet dan integritas kompetisi.















