Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui telah menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan atas kartu merah yang diterima striker timnas AS, Folarin Balogun, dalam laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Bosnia dan Herzegovina pada 1 Juli 2026. Permintaan itu disampaikan Trump secara pribadi dalam percakapan telepon pekan lalu, dan berujung pada keputusan FIFA pada 5 Juli 2026 untuk menangguhkan skorsing satu pertandingan Balogun, sehingga ia tetap bisa tampil melawan Belgia di babak 16 besar pada 6 Juli 2026. Keputusan ini memicu kontroversi luas, terutama dari UEFA dan Asosiasi Sepak Bola Belgia yang menilai keputusan FIFA melanggar integritas permainan.
Trump menegaskan bahwa ia hanya meminta peninjauan, bukan pembatalan hukuman. “Yang saya lakukan hanyalah meminta peninjauan, karena saya tidak berpikir itu adalah pelanggaran,” ujarnya dalam pernyataan di Ruang Oval Gedung Putih pada 6 Juli 2026. Ia memuji keputusan FIFA sebagai “sangat brilian” dan menyebutnya sebagai “pembatalan ketidakadilan besar.” Selain tekanan langsung dari Gedung Putih, pejabat AS juga menyerahkan bukti tambahan kepada FIFA sebagai bagian dari proses banding yang akhirnya diterima.
FIFA mengacu pada Pasal 27 Kode Disiplin untuk menangguhkan hukuman Balogun selama masa percobaan satu tahun, memungkinkan pemain berusia 20 tahun itu kembali bermain tanpa menjalani skorsing. Namun, reaksi keras muncul dari Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) yang mengecam keputusan itu sebagai “tidak dapat dipahami dan tidak dapat dibenarkan,” sementara Asosiasi Sepak Bola Belgia (RBFA) mengajukan banding yang ditolak FIFA. Kebijakan ini pun menjadi sorotan global, mempertanyakan independensi dan konsistensi otoritas sepak bola dunia dalam menegakkan aturan disiplin.
Pertandingan AS melawan Belgia berlangsung pada 6 Juli 2026 di Santa Clara, California, dengan Balogun tetap diturunkan sebagai starter meski insiden kartu merahnya sempat memicu debat sengit di tingkat internasional.















