Sumbawanews.com,- Virgil van Dijk membela keputusan pelatih Ronald Koeman usai Timnas Belanda tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah kalah adu penalti 2-3 dari Maroko di babak 32 besar. Meski strategi defensif menuai kritik tajam dari publik dan analis, kapten tim berpendapat bahwa pendekatan yang diterapkan berjalan sesuai rencana.
“Pertandingan ini sangat intens. Saya pikir kami bertahan dengan sangat terorganisasi. Mereka hampir tidak bisa menemukan ruang di antara lini kami,” ujar Van Dijk usai laga yang berakhir 1-1 setelah 120 menit itu.
Belanda memang memilih formasi lima bek dan mengandalkan serangan balik, sebuah taktik yang membuat mereka dikuasai oleh Maroko sepanjang pertandingan. Statistik menunjukkan tim Singa Atlas memiliki expected goals (xG) sebesar 1,4, sementara Oranye hanya 0,24. Namun, Van Dijk menegaskan bahwa keberhasilan mencetak gol lewat skema yang sudah dipersiapkan membuktikan efektivitas rencana itu.
“Kami mencetak gol yang bagus. Tapi di menit akhir, tekanan terus berlanjut hingga kebobolan. Setelah itu, semuanya ditentukan lewat adu penalti—dan sayangnya, kami gagal,” katanya.
Van Dijk juga menolak anggapan bahwa Belanda bermain terlalu negatif. Ia menunjuk bahwa banyak tim besar di turnamen ini—termasuk juara bertahan—juga memilih bertahan dan menunggu momen tepat untuk menyerang. “Ini bukan hal baru. Kami berlatih metode ini selama dua hari, dan dalam banyak situasi, ia berjalan baik.”
Meski mendapat dukungan dari sang kapten, kekalahan itu memicu gelombang kemarahan di kalangan suporter. Banyak yang menyalahkan kegagalan tiga penendang penalti, termasuk Justin Kluivert, anak dari legenda Patrick Kluivert, yang gagal mengubah tendangannya menjadi gol. Namun, Van Dijk menekankan bahwa fokus sekarang bukan pada siapa yang salah, tapi pada apa yang sudah dilakukan.
“Tentu masih ada hal yang bisa diperbaiki. Tapi sekarang, semuanya sudah tidak mengubah hasil apa pun.”
Dengan tersingkirnya Belanda, Ronald Koeman pun menghadapi tekanan besar untuk mundur. Namun, Van Dijk—sebagai salah satu pemain paling berpengaruh di tim—tetap berdiri di sisi pelatihnya, menegaskan bahwa kekalahan ini bukan bukti kegagalan taktik, melainkan kegagalan eksekusi di momen paling krusial.















