Sumbawanews.com,- Timnas Belanda tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah kalah dalam adu penalti 3-0 melawan Maroko di Estadio Monterrey, Meksiko, pada Selasa, 30 Juni 2026, dini hari WIB. Kekalahan mengejutkan tersebut memicu gelombang kecaman, termasuk dari legenda sepak bola dunia, Zlatan Ibrahimovic, yang tak segan menyalahkan pelatih Ronald Koeman sebagai biang kerok kegagalan timnya.
Sebelumnya, Belanda sempat unggul 1-0 lewat gol Cody Gakpo pada menit ke-72. Namun, di masa injury time, Issa Diop menyamakan kedudukan bagi Maroko, memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Tak ada gol tambahan yang lahir, sehingga nasib tim ditentukan lewat adu penalti. Tiga eksekutor Belanda—Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville—semuanya gagal, sementara penjaga gawang Maroko, Yassine Bounou, tampil heroik dengan menepis dua tendangan sekaligus.
Ibrahimovic, yang pernah menjadi simbol kejayaan sepak bola Belanda melalui gaya bermain ofensif dan dominan, menyatakan kekecewaan mendalam. “Saya tidak mengenali tim Belanda ini,” ujarnya dalam wawancara dengan ESPN. “Koeman menghancurkan identitas Belanda. Ini bukan lagi tim yang bermain dengan keberanian, kontrol, dan keindahan. Ini adalah tim yang tak punya jiwa.”
Kritiknya merujuk pada perubahan taktis ekstrem yang diterapkan Koeman. Di fase grup, Belanda merajai lini depan dengan formasi 4-2-3-1 yang mencetak 10 gol dalam tiga pertandingan, menampilkan permainan menyerang yang dinamis dan memukau. Namun, di babak 32 besar, Koeman beralih ke sistem 5-2-2-1 yang terlalu defensif, membatasi ruang gerak para pemain kreatif seperti Frenkie de Jong dan Ryan Gravenberch. Hasilnya? Tim Oranye kehilangan arah, kehilangan tekanan, dan akhirnya kehilangan nyawa.
Gelombang kemarahan tidak hanya datang dari figur legendaris. Di media sosial, fans Belanda membanjiri akun resmi tim dengan kritik pedas, menilai Koeman lebih memilih keamanan daripada keberanian—padahal, filosofi sepak bola Belanda selama puluhan tahun telah dibangun di atas prinsip “Total Football”: menyerang sebagai bentuk bertahan, dan menguasai permainan sebagai cara memenangkan pertandingan.
Kekalahan ini menandai kegagalan pertama Belanda sejak Piala Dunia 2014 untuk tidak lolos ke babak 16 besar. Dengan keberadaan generasi emas yang masih berusia produktif—de Jong, Denzel Dumfries, dan even pemain muda seperti Summerville—kegagalan ini semakin terasa menyakitkan, terutama karena bukan karena kurangnya bakat, tapi karena keputusan strategis yang keliru.
Sementara itu, Maroko, yang kembali menunjukkan ketangguhan dan disiplin taktis, akan melanjutkan perjalanan ke babak 16 besar, menjadi satu-satunya tim Afrika yang tersisa di turnamen ini. Sementara di kubu Belanda, tekanan semakin menggila. Pertanyaan besar kini menggantung: apakah Ronald Koeman masih layak memimpin De Oranje, atau apakah ini akhir dari sebuah era yang kehilangan jiwanya?















