Sumbawanews.com,- Empat jiwa melayang dalam kejadian mengerikan di objek wisata glamping Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Di antara korban yang tewas akibat insiden yang masih dalam penyelidikan polisi, terdapat Bagas Amar Hakiki (21), fotografer lepas Keraton Yogyakarta dan mahasiswa Sastra Prancis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada angkatan 2022.
Bagas, anak pertama dari keluarga tersebut, dikenal sebagai sosok berbakat yang tekun dalam seni dokumentasi visual. Ia pertama kali bergabung dengan Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta melalui program magang pada 2024. Dari sekian banyak calon, kemampuannya dalam menangkap momen-momen keagungan budaya Jawa langsung menarik perhatian tim dokumentasi keraton. Setelah menyelesaikan masa magang satu tahun, ia resmi direkrut sebagai fotografer lepas, bersama dua rekan lainnya, untuk mengabadikan ritual, upacara, dan kehidupan sehari-hari di lingkungan keraton.
Nyi RW Kartiutami Guritno, Penghageng Hudyanawara Kawedanan Tandha Yekti, membenarkan keberadaan Bagas dalam tim. “Betul. Mas Bagas salah satu fotografer kami,” ujarnya, Kamis (28/5/2026). Ia menambahkan, Bagas tidak hanya ahli teknis, tetapi juga memiliki kepekaan estetika yang langka—mampu mengubah keheningan upacara menjadi gambar yang bernyawa.
Keluarga Bagas—terdiri dari orang tua dan dua saudara kandungnya—tiba di lokasi glamping untuk liburan akhir pekan. Mereka memilih tenda berpendingin udara di tengah hutan pegunungan Temanggung, yang dikenal sebagai destinasi populer bagi kalangan urban. Namun, malam yang seharusnya damai berubah menjadi malapetaka. Tenda tempat mereka bermalam tiba-tiba ambruk akibat hujan lebat dan angin kencang yang melanda area tersebut, menimbulkan tekanan ekstrem hingga menyebabkan kekurangan oksigen. Semua anggota keluarga ditemukan tak bernyawa di dalam tenda saat ditemukan petugas pada pagi harinya.
Kasus ini kini menjadi sorotan nasional, bukan hanya karena kehilangan empat nyawa sekaligus, tetapi juga karena kepergian seorang seniman muda yang menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. Bagas pernah mengabadikan prosesi Grebeg Maulud, upacara Sekaten, hingga kehadiran Sultan Hamengkubuwono X dalam acara budaya nasional. Karyanya kerap dipakai dalam publikasi resmi keraton dan pameran seni di Yogyakarta.
Keraton Yogyakarta menyampaikan duka yang mendalam. “Bagas adalah bagian dari keluarga besar keraton. Kehilangannya bukan hanya kehilangan seorang fotografer, tapi kehilangan jiwa yang mampu menyentuh hati melalui lensa,” ujar seorang perwakilan keraton yang tidak mau disebutkan namanya.
Polisi masih menyelidiki penyebab pasti kejadian, termasuk keselamatan struktur tenda dan kelayakan lokasi glamping di tengah cuaca ekstrem. Sementara itu, masyarakat dan komunitas seni di Yogyakarta mulai menggelar doa bersama dan pameran foto peringatan untuk mengenang Bagas—seorang pemuda yang membawa keindahan tradisi ke dunia modern, sebelum waktu mengambilnya terlalu cepat.















