Sumbawanews.com,- Di bawah langit biru Maluku yang cerah, Masjid Raya Negeri Sepa di Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, berubah menjadi pusat kekhusyukan dan kebersamaan menjelang Salat Iduladha 1447 H. Di sana, bukan hanya suara takbir yang menggema, tapi juga tradisi turun-temurun bernama “Salawate”—sebuah ritual kumpul uang secara sukarela yang dilakukan sebelum ibadah utama dimulai.
Ritual ini dimulai dari saf terdepan, tempat raja adat, pemuka agama, dan imam duduk berjejer. Dua muazin dan seorang marbot, membawa sajadah berlapis kain putih, berjalan perlahan dari satu saf ke saf lain, mengumpulkan sumbangan yang diberikan dengan hati ikhlas. Tak ada paksaan, tak ada catatan. Hanya kepercayaan bahwa setiap rupiah yang diserahkan adalah bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan rumah ibadah tertua di negeri ini.
Imam Masjid Negeri Sepa, Said Ahmad Bubakar, menjelaskan bahwa Salawate bukan sekadar kebiasaan, melainkan warisan leluhur yang dijaga dengan tekun. “Uang ini tidak untuk kepentingan pribadi, tapi untuk membiayai kebutuhan harian penghulu dan imam masjid,” ujarnya, sambil menegaskan bahwa setiap sumbangan datang dari hati yang tulus.
Setelah Salawate selesai, barulah Salat Id dimulai dipimpin oleh Muhammad Daut Sopalatu. Di mimbar yang dihiasi panji-panji warna-warni simbol kerajaan dan keagamaan, tongkat khotbah yang dibungkus kain putih diangkat dengan penuh khidmat oleh Khatib Kiai Haji Ali Mahfudz, pimpinan Pondok Pesantren Darussalam An Nasr. Suara muazin Jafar Wasolo sempat bergetar saat mengumandangkan salawat—sebuah momen yang menggambarkan betapa dalamnya makna spiritual di balik setiap gerak ritual.
Dalam khotbahnya, Ali Mahfudz mengingatkan jemaah akan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail—bukan hanya sebagai legenda, tapi sebagai ujian iman yang mengajarkan pengorbanan, kepatuhan, dan keikhlasan. “Iduladha bukan sekadar hari raya, tapi momen untuk mengevaluasi diri: apakah kita masih mampu mengorbankan ego demi kebaikan bersama?” tanyanya, sebelum mengajak seluruh jemaah untuk saling memaafkan, merajut silaturahmi, dan mendoakan jemaah haji Indonesia yang tengah berdiri di Arafah, termasuk warga Negeri Sepa yang sedang menunaikan rukun Islam kelima.
Usai salat, suasana berubah menjadi hangat. Tangan-tangan saling berjabat, pelukan erat menggantikan jarak, dan air mata mengalir tanpa malu. Tahlil pun digelar, doa-doa dipanjatkan untuk arwah leluhur, untuk tanah air, dan untuk rezeki yang berlimpah. Di tengah hiruk-pikuk modernitas, Negeri Sepa tetap memelihara keutuhan tradisi—bukan sebagai pameran budaya, tapi sebagai jembatan antara generasi, antara manusia dan Tuhan, antara hati yang satu dengan yang lain.















