Sumbawanews.com,- Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, mengonfirmasi pembebasan tiga aktivis pro-Palestina yang sempat ditahan selama sebulan di Libya. Ketiganya—Domenico Centrone, Leonarda Alberizia, dan Matias Alvarez Rodriguez—adalah warga negara Uruguay sekaligus pemegang kewarganegaraan Italia, yang terlibat dalam Global Sumud Land Convoy, sebuah konvoi darat internasional yang membawa bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza.
Konvoi yang berangkat dari Mauritania itu bertujuan mendukung rakyat Gaza di tengah blokade yang berkepanjangan. Namun, perjalanan mereka terhenti di Libya, di mana otoritas setempat menahan ketiga aktivis tanpa penjelasan resmi selama lebih dari 30 hari. Keprihatinan internasional memicu tekanan diplomatik, yang akhirnya membuahkan hasil: mereka dilepaskan dan diserahkan kepada Konsulat Italia di Benghazi pada Rabu (24/6/2026).
“Mereka kini dalam keadaan sehat dan telah berada di bawah perlindungan resmi kami,” ujar Tajani dalam pernyataan resminya, seperti dilansir Al Jazeera. Rencananya, ketiga aktivis akan segera diterbangkan kembali ke Italia dalam waktu dekat.
Ketiganya merupakan bagian dari gerakan global yang menggabungkan aksi kemanusiaan dengan solidaritas politik terhadap Palestina. Konvoi darat mereka berjalan paralel dengan Global Sumud Flotilla, armada kapal yang gagal mencapai Gaza setelah dicegat oleh angkatan laut Israel di perairan internasional. Penahanan mereka di Libya memicu kecaman dari sejumlah negara dan organisasi hak asasi manusia, yang menilai tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap kebebasan bergerak dan hak kemanusiaan.
Kasus ini juga menyoroti risiko yang dihadapi aktivis kemanusiaan di kawasan yang kacau, terutama di Libya yang masih berada dalam ketidakstabilan politik pasca-revolusi 2011. Meski tidak ada klaim resmi dari pihak Libya mengenai alasan penahanan, sejumlah sumber diplomatik menyebut bahwa tekanan dari pihak-pihak yang menentang bantuan ke Gaza kemungkinan ikut berperan.
Di Indonesia, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menyatakan dukungan kuat terhadap perjuangan Palestina, termasuk dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan di Hambalang pada awal Juni lalu. Pernyataan itu kembali diperkuat saat Prabowo menerima telepon dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas, di mana Indonesia menegaskan posisi “berdiri bersama” rakyat Palestina.
Pembebasan ketiga aktivis ini menjadi simbol kecil namun berarti dalam upaya global untuk menjaga ruang kemanusiaan di tengah konflik yang semakin memburuk. Mereka kini kembali ke tanah air, membawa cerita yang tak hanya tentang penahanan, tapi juga tentang keteguhan dalam membela hak hidup orang-orang yang terpinggirkan.















