Sumbawanews.com,- Militer Israel mengonfirmasi kematian seorang prajurit berusia 21 tahun dalam operasi besar di Lebanon selatan, Sabtu (31/5/2026), saat pasukan mereka melancarkan serangan ofensif terhadap posisi Hizbullah. Insiden itu terjadi di kawasan strategis Beaufort Ridge dan Wadi al-Salouqi, di mana tentara Israel sedang memperluas garis pertahanan dan menghancurkan infrastruktur milik kelompok bersenjata tersebut.
Menurut juru bicara militer Israel, Ella Waweya, operasi ini dirancang untuk menghilangkan ancaman langsung terhadap wilayah utara Israel, khususnya Galilea dan pemukiman Metula. “Kami sedang menghapus jaringan teroris dan penyabot yang bersembunyi di perbatasan,” ujarnya dalam unggahan di platform X, seperti dilansir Al Jazeera.
Prajurit yang tewas dilaporkan menjadi korban serangan drone Hizbullah—sebuah taktik yang semakin sering digunakan oleh kelompok tersebut dalam konflik berkepanjangan dengan Israel. Empat tentara lainnya mengalami luka-luka dalam serangan yang sama. Media Israel Channel 12 memverifikasi bahwa serangan itu dilakukan oleh pesawat tak berawak, menunjukkan semakin canggihnya kemampuan Hizbullah dalam memanfaatkan teknologi militer non-konvensional.
Operasi ini merupakan bagian dari eskalasi yang terus meningkat sejak beberapa hari terakhir, dengan pengerahan pasukan darat dalam skala besar dan serangan udara yang intensif. Israel menegaskan bahwa tujuan utamanya bukan hanya membalas serangan, tetapi juga membangun zona aman di perbatasan utara yang telah menjadi sasaran tembakan roket dan drone bertubi-tubi selama berbulan-bulan.
Sementara itu, Hizbullah belum memberikan pernyataan resmi tentang korban di pihak mereka, tetapi sejumlah laporan lokal menyebutkan serangan balasan terhadap posisi Israel di wilayah perbatasan. Konflik ini memperdalam kekhawatiran internasional akan kemungkinan perang skala penuh, terutama setelah serangan serupa baru-baru ini di Gaza yang menewaskan komandan senior Hamas.
Dengan meningkatnya intensitas pertempuran di dua front sekaligus—Lebanon dan Gaza—Israel kini berada di titik paling rawan sejak meletusnya konflik 2023. Dunia menanti respons dari PBB dan sekutu regional, sementara rakyat sipil di kedua sisi perbatasan terus menjadi korban tak bersalah dari siklus kekerasan yang tak kunjung usai.















