Sumbawanews.com,- Ternyata, kisah itu bermula dari pernikahan diam-diam.
Di desa Singanpur, Uttar Pradesh, heboh melanda ketika Reena, seorang perempuan berusia 21 tahun, tiba-tiba menghilang. Keluarganya panik saat menemukan pakaian dan perhiasannya tersusun rapi—tapi di sampingnya, tergeletak kulit ular sepanjang 152 sentimeter. Tanpa basa-basi, desas-desus pun meledak: Reena adalah “ichchadhari naagin”, ular ajaib dalam mitos India yang bisa berubah menjadi manusia.
Rumor itu menyebar seperti api di padang rumput. Warga percaya, kejadian itu terkait dengan kunjungan Reena ke Kuil Sheshnag beberapa bulan sebelumnya, di mana ia membawa pulang patung ular sakral. Bahkan, keluarganya mengatakan ia sering bermimpi bertemu ular dan tidur di dekatnya. Semua detail itu, ditambah keheningan yang misterius, memperkuat narasi mistis yang menggemparkan desa.
Namun, fakta yang terungkap justru jauh dari dunia gaib.
Tiga bulan setelah hilangnya Reena, ia muncul di kantor polisi Fafund—dengan wajah tenang dan cerita yang jauh lebih manusiawi. Ia mengaku tidak menghilang. Ia kabur.
Reena, dari keluarga Rakesh Valmiki, sebenarnya telah diatur pernikahan dengan pria lain. Tapi hatinya berpihak pada Shyam Ji Sharma, kekasihnya. Tanpa sepengetahuan keluarga, ia pergi ke Kalyankapur, menikah diam-diam, dan baru beberapa hari kemudian berani melapor ke polisi.
“Kisah tentang saya jadi ular itu dibuat-buat,” ujar Reena. “Keluarga saya sengaja meletakkan kulit ular di tempat tidur saya, lalu mengatakan saya menghilang. Mereka ingin menghindari malu karena saya menikah tanpa izin.”
Penduduk desa yang awalnya berbondong-bondong membawa sesajen dan mantra untuk mengusir “naagin” kini terdiam. Tak ada sihir. Tak ada transformasi ajaib. Hanya cinta yang menentang adat, dan kepercayaan tradisional yang mudah dimanfaatkan untuk menutupi ketidaknyamanan sosial.
Kisah Reena bukan hanya tentang mitos yang hidup di benak masyarakat pedesaan. Ia adalah cerminan bagaimana tekanan budaya bisa mengubah seorang perempuan yang berani memilih jalan sendiri menjadi objek legenda—sampai kebenaran akhirnya merangkak keluar dari bayang-bayang takhayul.















