Sumbawanews.com,- Tim Satgas Pemulihan dan Rekonstruksi (Satgas PRR) menemukan sejumlah sheet pile pada tanggul pengaman Sungai Krueng Tamiang mengalami kemiringan, sehingga memicu koordinasi mendesak dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk segera memperbaiki struktur tersebut. Temuan ini terjadi saat inspeksi lapangan di Desa Kampung Raja, Aceh Tamiang, pada Kamis, 4 Juni 2026, sebagai bagian dari pemantauan progres rekonstruksi pascabanjir di Sumatra.
Tanggul sepanjang 500 meter yang dikerjakan oleh PT Nindya Karya ini menjadi penopang krusial bagi perlindungan permukiman dan lahan pertanian di sepanjang aliran sungai yang membentang 217 kilometer dari Aceh Timur hingga bermuara di Selat Malaka. Dari total panjang, 453 meter terdiri dari tanggul tanah, sementara 47 meter sisanya menggunakan sheet pile—sebuah struktur beton bertulang yang dirancang menahan tekanan air dan tanah. Namun, pada beberapa titik, pancang sheet pile terdeteksi miring, berpotensi mengurangi daya tahan terhadap banjir musiman.
Atas temuan ini, Tim Ahli Teknik dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Kementerian PUPR langsung memberikan rekomendasi teknis: penarikan ulang pancang yang miring ke posisi vertikal dan percepatan mobilisasi alat berat agar pekerjaan tetap rampung sesuai target, yaitu 27 Juni 2026. Koordinasi ini menunjukkan respons cepat Satgas PRR yang tidak hanya memantau, tetapi juga mengarahkan perbaikan teknis secara langsung.
Kunjungan yang dipimpin oleh Imran, pejabat eselon I Kemendagri, juga mencatat satu titik longsor di Desa Semadam, Kecamatan Kejuruan Muda, yang kini sedang ditangani oleh PT PP dengan target penyelesaian paling lambat Agustus 2026—sebelum musim hujan tiba. Longsor ini menjadi peringatan dini bahwa infrastruktur pengendali banjir harus dibangun tidak hanya kuat, tetapi juga tahan terhadap dinamika geologi lokal.
Di sisi lain, pembangunan Hunian Tetap (Huntap) oleh Yayasan Buddha Tzu Chi juga menjadi fokus utama. Dari total 500 unit yang direncanakan, 108 unit pertama telah selesai strukturnya dan tinggal menunggu tahap finishing, siap diresmikan pada 14 Juni 2026. Sebanyak 240 unit lainnya sedang dalam proses pemasangan pondasi, sementara 152 unit belum dimulai. Secara nasional, target huntap di Aceh mencapai 28.910 unit, dengan 157 unit telah selesai dan 713 unit dalam pengerjaan per 4 Juni 2026.
Ketua Satgas PRR sekaligus Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan, pemulihan infrastruktur ini adalah bagian dari Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sumatra yang telah disetujui DPR, Kementerian Keuangan, dan Sekretariat Negara pada 25 Mei lalu. Program ini dirancang berjalan selama tiga tahun, hingga 2028, dengan prioritas utama: menjamin keselamatan masyarakat, memulihkan mata pencaharian, dan membangun ketahanan jangka panjang terhadap bencana.
“Kami tidak hanya membangun jembatan atau tanggul. Kami membangun kepercayaan,” ujar Tito dalam penutup kunjungan. “Setiap pancang yang lurus, setiap rumah yang berdiri, adalah janji negara kepada rakyat yang kehilangan segalanya.”
Dengan koordinasi lintas lembaga yang ketat dan respons teknis yang cepat, upaya pemulihan di Aceh Tamiang kini bergerak dari reaksi menuju pencegahan—mengubah luka banjir menjadi fondasi ketahanan yang lebih kokoh.

















