Sumbawanews.com,- Di sebuah ruang makan atas restoran Jonathan’s Grille di Nashville, sekitar 60 orang berkumpul dalam keheningan yang penuh tekad. Mereka bukan sekadar pengunjung biasa—mereka adalah para penolak vaksinasi Covid-19 yang datang dari seluruh penjuru Amerika Serikat: dari New Jersey, Philadelphia, hingga Florida. Mereka hadir bukan untuk menonton pertandingan olahraga, melainkan untuk mencari pasangan yang sejalan dengan keyakinan mereka: bahwa tubuh mereka adalah wilayah pribadi yang tak boleh diintervensi oleh otoritas.
Acara ini diselenggarakan oleh Unjected, sebuah aplikasi kencan yang secara eksplisit dirancang untuk orang-orang yang menolak semua bentuk vaksinasi. Menurut pendirinya, Shelby Hosana, 32, aplikasi ini bukan sekadar alat pertemuan—ia adalah simbol perjuangan atas “kebebasan tubuh.” “Ini bukan gerakan anti-vaksin. Ini gerakan pro-kebebasan,” tegas Hosana di tengah kerumunan yang penuh semangat. Di sana, peserta saling berbagi kisah penolakan pekerjaan, stigma sosial, dan pengalaman dianggap sebagai “musuh masyarakat” hanya karena memilih tidak disuntik.
Unjected, yang pertama kali diluncurkan pada 2021 dan sempat ditarik dari Apple App Store karena melanggar kebijakan misinformasi terkait Covid, kini kembali tersedia di platform digital setelah diterima ulang pada akhir 2024. Hosana menilai kebangkitan ini sejalan dengan perubahan politik nasional—terutama setelah Donald Trump kembali menjabat dan Robert F. Kennedy Jr. dilantik sebagai kepala Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS). Di bawah kepemimpinan Kennedy, rekomendasi vaksinasi anak telah direvisi, termasuk penghapusan beberapa vaksin yang selama puluhan tahun dianggap standar oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).
Namun, di balik narasi kebebasan itu, ilmuwan kesehatan masyarakat memperingatkan dampak nyata dari penolakan vaksin. Penyakit yang sebelumnya hampir punah—campak, batuk rejan, tuberkulosis, dan infeksi bakteri mematikan lainnya—kini kembali muncul di berbagai wilayah AS. “Penyakit yang bisa dicegah vaksin masih membunuh,” tegas Dr. Paul Offit, spesialis penyakit menular dari Rumah Sakit Anak Philadelphia. “Kebebasanmu bukanlah kebebasan bagi orang lain yang terpapar.”
Pertemuan di Nashville bukanlah yang pertama. Unjected sedang menjalani tur empat kota bertajuk “Summer of Love,” dengan tujuan menghidupkan kembali koneksi manusia di tengah kelelahan digital. Namun, rencana awal di Denver berubah menjadi skandal. Recess Beer Garden, lokasi yang awalnya diumumkan sebagai venue, menolak keterlibatan dan menyatakan bahwa acara itu diadakan tanpa izin, bahkan memicu ancaman dan pelecehan terhadap stafnya. Acara akhirnya dipindahkan, dan menarik lebih dari 150 peserta. “Anti-vaksin dapat kesempatan untuk jatuh cinta pada orang yang tidak memahami sains,” tulis kolom opini di Denver Post.
Hosana merespons dengan gugatan perdata senilai $4 juta terhadap Recess, menuduh pelanggaran hak sipil dan pencemaran nama baik. Ia menegaskan bahwa banyak peserta Unjected memang tidak menerima booster rutin—tetapi menurut standar CDC, mereka tetap dianggap “belum divaksinasi” dalam konteks tertentu, seperti pada lansia atau orang dengan sistem imun lemah. Namun, ia menolak menyamakan gerakannya dengan politik kanan ekstrem. “Kami bukan kelompok gila kanan. Kami hanya ingin hak untuk memutuskan apa yang masuk ke tubuh kami tanpa dihakimi.”
Tapi di tengah masyarakat yang semakin terpecah, pilihan pribadi tak lagi bisa dipisahkan dari konsekuensi kolektif. Survei Pew Research pada 2022 menunjukkan 47 persen warga AS menganggap penting mengetahui status vaksinasi pasangan kencan. Para ahli sosial pun melihat munculnya platform semacam Unjected sebagai cerminan semakin kuatnya peran isu politik sebagai filter nilai dalam hubungan romantis.
Sementara itu, Unjected terus merencanakan pertemuan berikutnya di Boise, Idaho, dan Portland, Oregon. Di balik poster-poster yang menawarkan “cinta tanpa suntikan,” tersembunyi sebuah pertanyaan yang semakin sulit dihindari: ketika kebebasan individu mengorbankan kesehatan publik, di mana batasnya?

















