Home Berita Nasional Sanitasi untuk Indonesia Emas 2045

Sanitasi untuk Indonesia Emas 2045

Sumbawanews.com,- Di tengah ambisi menjadikan Indonesia sebagai negara maju pada 2045, akses sanitasi layak bukan lagi sekadar kebutuhan dasar—tapi fondasi kesehatan, produktivitas, dan martabat manusia. Di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), di mana air bersih langka dan jamban menjadi barang mewah, solusi inovatif mulai merambah desa-desa terpencil. LIXIL, melalui merek SATO, hadir bukan hanya sebagai penyedia toilet, tapi sebagai mitra strategis dalam membangun peradaban sanitasi yang berkelanjutan.

Data menunjukkan, meski 80% masyarakat Indonesia sudah memiliki akses toilet, angka itu menyembunyikan realitas gelap: jutaan orang masih hidup tanpa sanitasi aman. “Karena populasi kita besar, persentase kecil tetap berarti jutaan jiwa,” ujar Agung Kamasan, Country Leader SATO Indonesia, dalam wawancara eksklusif. Tantangan sebenarnya bukan hanya soal membangun toilet, tapi memastikan limbahnya dikelola hingga tahap pengolahan akhir—yang disebut sebagai *safely managed sanitation*.

SATO menjawab tantangan ini dengan desain yang sederhana namun revolusioner. Toilet berbahan polypropylene (PP) yang ringan dan tahan banting memungkinkan satu orang tukang membawa hingga 20 unit sekaligus—berbeda dengan toilet keramik konvensional yang rentan pecah dan hanya bisa diangkut satu per satu. Lebih penting lagi, sistem I-TRAP-nya mengandalkan mekanisme penutup otomatis yang menghemat air hingga 80%. Hanya satu gayung air cukup untuk menyiram, membuatnya ideal untuk daerah kering seperti NTT, Papua, atau Kalimantan Barat.

Teknologi ini bukan sekadar inovasi teknis, tapi juga alat pencegah penyakit. Penutup otomatis mencegah serangga, tikus, dan ular masuk ke saluran pembuangan, sekaligus mengurangi bau yang menjadi sumber stigma sosial. “Sanitasi bukan soal toilet, tapi soal kehormatan,” kata Agung.

Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan. SATO tidak bekerja sendiri. Bersama Koalisi Sanitasi Pemuda di Lampung, mereka menggelar program *Musik Tepi Sungai*—menggabungkan edukasi sanitasi dengan seni untuk menjangkau generasi muda. Di wilayah 3T, kerja sama dengan Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) memperluas jangkauan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Dalam dua tahun terakhir, lebih dari 16.000 keluarga di pelosok telah memperoleh akses toilet yang aman dan layak.

Rencana ke depan jauh lebih ambisius. SATO akan memperluas program ke Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Jawa Barat—daerah-daerah yang masih menghadapi krisis air bersih dan infrastruktur sanitasi minim. Tujuannya jelas: mempercepat pencapaian target pemerintah, yaitu 70% sanitasi aman pada 2045, sejalan dengan SDGs poin 6.2.

“Kami ingin setiap rumah, di mana pun letaknya, punya akses toilet yang aman. Bukan karena itu hak istimewa, tapi karena itu hak dasar,” tegas Agung.

Di balik setiap toilet SATO yang terpasang di lereng pegunungan, pulau terpencil, atau desa terpencil, tersimpan harapan yang lebih besar: bahwa masa depan Indonesia Emas 2045 tidak akan dibangun hanya oleh gedung pencakar langit atau jalan tol, tapi juga oleh jamban yang bersih, air yang aman, dan manusia yang sehat.

Previous articlePrabowo dan Macron Perkuat Kemitraan Strategis
Next article12 Laporan Dugaan Pelanggaran Etik Terhadap Hery Susanto
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik