Sumbawanews.com,- Di lereng terpencil Gunung Salak, Kabupaten Sukabumi, seorang pria ditemukan dalam kondisi lemah, tak beridentitas, dan nyaris tak mampu berbicara—setelah menghilang selama tiga tahun tanpa jejak. Tubuhnya yang kurus kering, mengenakan kemeja biru pudar dan sarung hitam, tergolek di bebatuan sungai, dikerumuni lalat, dan hanya mampu meraih sebungkus makanan ringan sebagai asupan pertama setelah bertahun-tahun kelaparan.
Penemuan dramatis ini terjadi pada Senin, 25 Mei 2026, saat sekelompok warga sedang memeriksa saluran air di kawasan hutan ilegal pendakian Gunung Salak. Mereka langsung menghubungi relawan Ambulans Sukabumi Bersatu (ASB), yang segera turun ke lokasi. “Dia seperti orang yang jaringannya ngelag—sulit diajak komunikasi, mata kosong, tubuh kaku,” kata Muh Irfan Maulana, salah satu relawan yang terlibat evakuasi.
Karena tak mampu berjalan, pria itu harus diangkut dengan tandu darurat dari batang kayu dan kain sarung, melewati medan curam yang dipenuhi semak belukar. Tim evakuasi terpaksa membabat jalan baru, karena rute sungai terlalu licin dan berbahaya. Setelah dibawa ke Kantor Kecamatan Cicurug, identitasnya baru terungkap lewat pemindaian retina dan sidik jari: Ayi Solehudin, 50 tahun, warga Kampung Subela, Desa Sukajadi, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.
Keluarganya terkejut bukan main. “Sudah tiga tahun dicari ke mana-mana. Di Cianjur, semua jalur sudah digeledah. Tidak ada yang menyangka dia masih hidup, apalagi ditemukan di Gunung Salak yang jaraknya puluhan kilometer,” ujar Irfan, mengutip keterangan keluarga.
Ayi dikabarkan pergi dari rumah pada 2023 tanpa pamit. Tak ada catatan keberangkatan, tak ada pesan terakhir. Keluarga sempat melaporkan kehilangan ke polisi, tapi tak ada petunjuk berarti. Kini, dengan tubuh yang masih rapuh dan pikiran yang belum sepenuhnya pulih, Ayi menjadi misteri hidup yang mengguncang—sebuah kisah yang mempertanyakan batas antara ketahanan manusia dan keheningan alam.
Pihak keluarga kini tengah menunggu proses medis dan psikologis untuk memulihkan kondisinya. Sementara itu, warga dan petugas di Sukabumi terus bertanya: bagaimana seorang pria bisa bertahan hidup selama tiga tahun di hutan pegunungan tanpa makanan cukup, tanpa perlindungan, tanpa jejak? Jawabannya mungkin hanya tersimpan dalam ingatan yang masih terlalu rapuh untuk diungkap—atau dalam diamnya Gunung Salak, yang tampaknya memeluknya tanpa pernah melepaskan.















