Sumbawanews.com,- Presiden Prabowo Subianto akan bertindak sebagai inspektur upacara dalam peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026 di Gedung Pancasila, Jakarta. Acara resmi yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu akan dihadiri oleh Ketua Dewan Pengarah BPIP, Megawati Soekarnoputri, yang sekaligus merupakan Ketua Umum PDIP.
Kepala BPIP, Yudian Wahyudi, mengonfirmasi bahwa Presiden Prabowo akan hadir langsung dan memimpin upacara yang dijadwalkan berlangsung pukul 10.00 WIB. Lokasi upacara, Gedung Pancasila di Jalan Taman Pejambon, menjadi simbol penting sebagai ruang tempat rumusan dasar negara pertama kali dideklarasikan pada 1945.
Sementara itu, PDIP akan menggelar upacara tersendiri di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, sebagai tradisi tahunan partai. Djarot Saiful Hidayat, Ketua DPP PDIP, menyatakan Megawati dijadwalkan hadir di kedua acara—meski menekankan bahwa kehadirannya tetap bergantung pada kondisi kesehatan dan jadwal pribadi.
“Insya Allah beliau hadir. Doakan saja beliau punya waktu dan kesempatan,” ujar Djarot di Jakarta Utara, Sabtu (30/5/2026).
Kehadiran Megawati di upacara BPIP menjadi sorotan, mengingat hubungan historisnya sebagai putri proklamator Soekarno dan figur sentral dalam perjuangan pemeliharaan ideologi Pancasila. Ia kerap tampil dalam seragam putih khas BPIP, menegaskan perannya sebagai penjaga warisan ideologis bangsa, meski bukan bagian dari struktur pemerintahan.
Upacara tahun ini berlangsung di tengah dinamika politik yang mempertemukan kembali dua tokoh besar: Prabowo, yang kini memimpin pemerintahan, dan Megawati, yang pernah menjadi presiden dan tetap menjadi simbol moral bagi banyak kalangan. Kehadiran keduanya dalam satu peristiwa nasional menjadi gambaran nyata bahwa Pancasila tetap menjadi ruang bersama yang melampaui perbedaan politik.
Dalam pidato sebelumnya, Prabowo menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar simbol, tapi fondasi yang harus dihidupkan dalam kebijakan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. Sementara Megawati, dalam berbagai kesempatan, konsisten mengingatkan bahwa keutuhan bangsa hanya mungkin terjaga jika nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan persatuan benar-benar diwujudkan, bukan hanya diucapkan.
Keduanya akan berdiri di barisan terdepan—bukan sebagai rival, tapi sebagai saksi sejarah yang sama: bahwa Pancasila adalah milik seluruh bangsa, bukan milik partai atau individu.















