Sumbawanews.com,- Jakarta – Menjelang dimulainya Operasi Patuh 2026 pada 8 Juni mendatang, Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Agus Suryonugroho menegaskan bahwa misi utama operasi ini bukan sekadar menindak pelanggar, melainkan menanamkan kesadaran berlalu lintas yang tulus. Dalam rapat kesiapan via Zoom, ia menekankan bahwa keselamatan jalan bukanlah hasil dari rasa takut akan denda, tapi lahir dari kehendak masyarakat untuk saling menjaga.
“Patuh bukan kehilangan kebebasan, tapi cara menjaga nyawa—agar setiap perjalanan berakhir dengan pelukan keluarga di rumah,” ujar Irjen Agus, yang kini memimpin Korlantas Polri dengan jabatan resmi terkini.
Operasi yang berlangsung selama 14 hari ini mengusung tema *Optimalisasi Transformasi Penegakan Hukum secara Elektronik dalam Mewujudkan Masyarakat Tertib Berlalu Lintas*. Dalam strateginya, Korlantas membagi tiga pilar penegakan hukum: 60% menggunakan sistem ETLE (Electronic Traffic Law Enforcement), 30% penindakan manual oleh petugas di lapangan, dan 10% berupa teguran simpatik. Porsi manual tetap dipertahankan untuk menjangkau wilayah-wilayah yang belum tercover kamera elektronik, memastikan kesetaraan perlindungan keselamatan di seluruh Indonesia.
Fokus utama penindakan tidak hanya pada pelanggaran umum, tapi pada perilaku yang secara langsung mengancam nyawa dan mengaburkan identitas kendaraan—seperti berkendara melawan arus, menggunakan plat nomor palsu, atau memodifikasi plat agar tidak terdeteksi. Di samping itu, prioritas pelanggaran akan disesuaikan dengan analisis kecelakaan lokal, agar penanganan lebih tepat sasaran.
Irjen Agus menekankan bahwa transformasi digital bukan sekadar soal teknologi, tapi perubahan budaya. “Ketika masyarakat patuh, kita bukan hanya mengurangi angka kecelakaan—kita merawat peradaban. Jalan raya bukan medan pertarungan, tapi ruang bersama yang harus aman, tertib, dan beradab.”
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan momentum Operasi Patuh 2026 sebagai titik balik. “Patuh adalah bentuk cinta kepada kehidupan. Disiplin bukan kewajiban, tapi karakter. Dan keselamatan bukan tujuan akhir—melainkan cara kita menjalani setiap perjalanan.”
Operasi Patuh 2026 akan berlangsung serentak di seluruh provinsi mulai 8 hingga 21 Juni, bertepatan dengan peringatan Hari Bhayangkara. Dengan pendekatan yang humanis dan berbasis teknologi, Polri berharap operasi ini bukan sekadar kampanye, tapi awal dari gerakan sosial yang mengubah cara bangsa ini berlalu lintas—dari ketaatan paksa, menjadi kebiasaan yang tumbuh dari hati.















