Sumbawanews.com,- Fajar masih kabut di Stasiun Bojonggede, Bogor, ketika Dika dan Niar berlari mengejar kereta komuter pertama menuju Jakarta. Hari itu, Idul Adha 1447 Hijriyah, jutaan orang bersiap merayakan kebahagiaan bersama keluarga. Tapi bagi dua perempuan ini, hari besar itu bukan soal libur—melainkan kesempatan langka untuk menjemput rezeki yang hanya datang sekali setahun.
Mereka tiba di pelataran Masjid Istiqlal tepat saat khotbah berakhir. Jamaah mulai berhamburan keluar, membawa wangi parfum, suara tawa, dan kegembiraan yang memenuhi udara. Dika, tunanetra yang telah tiga tahun berturut-turut datang ke tempat ini, langsung mengambil posisi. Dengan tongkat di tangan kanan dan pengeras suara portabel di pundak, ia menarik napas panjang—lalu bernyanyi.
Suara itu jernih, mengalun pelan, membawa lagu-lagu religi yang akrab di telinga umat Islam. Tak ada alat musik, tak ada panggung. Hanya keberanian, bakat yang diasah di asrama tunanetra, dan kepercayaan bahwa suara bisa menjadi jembatan antara kemanusiaan.
“Kalau hari raya begini, jamaah lebih ramai. Dan lebih pemurah,” bisik Niar, saudari sekaligus pendamping Dika, sambil membetulkan posisi tubuhnya agar tak terhempas arus manusia.
Modal mereka sederhana: speaker modifikasi, mikrofon bekas, dan ketajaman pendengaran yang menjadi pengganti penglihatan. Di hari-hari biasa, mereka berkeliling kawasan perkantoran dan pasar di Jakarta Timur hingga Selatan, menunggu recehan yang kadang tak sampai Rp100 ribu. Tapi di Istiqlal, di hari raya, angka itu bisa melonjak hingga tiga kali lipat—bahkan mencapai Rp600 ribu dalam sehari, dari uang tunai maupun transfer digital.
Setiap kali ada yang menghampiri, menyentuh ponselnya, lalu memindai kode QR di kotak swadaya, Dika tersenyum—meski tak bisa melihatnya. Ia merasakannya lewat getaran, lewat hening yang tiba-tiba pecah jadi ucapan terima kasih, lewat kehangatan yang tak pernah dibeli uang.
Ini bukan permintaan belas kasihan. Ini adalah perjuangan yang dijalani dengan kepala tegak. Dika memilih bersuara, bukan menengadah. Ia bukan pengemis, tapi seniman jalanan yang menjual keindahan, bukan penderitaan.
Di balik optimisme itu, ada keheningan yang lebih berat: harapan akan bantuan tunai khusus penyandang disabilitas yang hingga kini tak kunjung tiba. Pemerintah mengumumkan program-program, tapi bagi Dika dan ribuan penyandang disabilitas lain yang hidup dari keringat dan suara, janji-janji itu masih terlalu jauh dari kenyataan.
Masjid Istiqlal, dengan arsitekturnya yang megah dan simbol kebersamaan antarumat beragama, menjadi latar yang ironis sekaligus menyentuh. Di sini, Presiden menyembelih sapi kurban, jamaah berbondong-bondong menunaikan ibadah, dan di sisi lain, seorang perempuan buta bernyanyi—bukan untuk diperhatikan, tapi untuk bertahan hidup.
Suara Dika mengalun di antara gemuruh takbir dan doa. Ia tak meminta apa-apa. Hanya ingin dianggap manusia—yang punya bakat, punya harga diri, dan punya hak untuk bekerja.
Di tengah kemegahan batu dan marmer, suara itu menjadi yang paling manusiawi.















