Sumbawanews.com,- Di tengah persidangan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Nadiem Makarim, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, tampil dengan pakaian tak biasa: jaket ojek online. Jaket sederhana berwarna hitam dengan logo Gojek itu bukan sekadar simbol, tapi kenangan hidupnya sebagai pendiri perusahaan yang kini menjadi raksasa ekonomi digital Indonesia.
Sebelum memasuki ruang sidang, jaket itu diserahkan oleh Mulyono, sosok yang dikenal sebagai “Gojek 001” — pengendara pertama yang bergabung dengan platform yang awalnya hanya berjalan dari pojok kantor sewaan di Jakarta. “Ini jaket pertama yang pernah saya desain sendiri,” ujar Nadiem, suara tenang namun penuh makna. “Saya belum mampu bayar desainer waktu itu. Jadi saya buat sendiri, agak lusuh, sederhana, tapi itulah awal semuanya.”
Ia menjelaskan, jaket itu adalah artefak dari masa-masa sulit Gojek: tanpa investor, tanpa aplikasi yang stabil, tanpa kantor layak. Hanya semangat sekelompok anak muda yang percaya pada ide menghubungkan pengendara motor dengan pelanggan lewat ponsel. “Ini bukan sekadar pakaian. Ini mewakili semua orang yang setia, yang bekerja dari pagi hingga malam, tanpa jaminan apa-apa, tapi tetap berjalan,” katanya.
Pemilihan jaket itu pun dianggapnya sebagai bentuk penghormatan. “Saya ingin ingatkan semua orang — termasuk hakim, jaksa, dan publik — bahwa di balik setiap keputusan kebijakan, ada manusia-manusia kecil yang jadi tulang punggung perubahan. Saya bukan datang sebagai menteri. Saya datang sebagai salah satu dari mereka.”
Kasus yang sedang ia hadapi berakar pada pengadaan 1,3 juta laptop Chromebook dan sistem manajemen perangkat untuk sekolah-sekolah di era kepemimpinannya. Jaksa Penuntut Umum Roy Riadi sebelumnya menuntut Nadiem dengan hukuman 18 tahun penjara, dengan dakwaan utama melanggar Pasal 603 dan 604 KUHP serta Pasal 18 UU Tipikor. Namun, kuasa hukum Nadiem menilai bukti yang diajukan masih minim dan tidak memadai untuk menetapkan kesalahan pidana.
Di tengah hiruk-pikuk politik dan hukum, keputusan Nadiem mengenakan jaket itu menjadi momen simbolis yang menyebar cepat di media sosial. Banyak warganet memandangnya sebagai bentuk keberanian, sekaligus pengingat bahwa kekuasaan sejati bukan terletak pada pakaian mewah, tapi pada kesetiaan pada asal-usul.
Kini, jaket itu bukan lagi sekadar pakaian kerja. Ia menjadi simbol perjalanan seorang pendiri yang tak pernah melupakan akarnya — bahkan saat berdiri di hadapan meja hakim, dengan masa depannya tergantung pada putusan yang akan dijatuhkan.















