Sumbawanews.com,- Jakarta – Di tengah hamparan kekecewaan akibat penipuan travel umrah, Joko Kandas justru memilih jalan yang tak terduga: ia membiayai sendiri keberangkatan mertuanya ke Tanah Suci.
Bukan karena kekayaan berlimpah, tapi karena hati yang tak rela melihat harapan orang tua yang sudah lama didambakan, kandas oleh keserakahan.
Sebelumnya, Joko—seorang warga Jakarta—telah menyerahkan uang sebesar Rp60 juta kepada Hanania Travel, sebuah biro perjalanan yang menjanjikan paket umrah untuk adik dan mertuanya pada Juni 2026. Ia percaya pada iklan menarik di media sosial, dan bahkan menggelar syukuran kecil sebagai tanda persiapan. Perlengkapan pun sudah dibeli, jadwal sudah dihitung, doa-doa pun sudah dipanjatkan.
Tapi yang datang bukan tiket, bukan konfirmasi kloter, bukan pula bukti pembayaran. Yang ada justru keheningan. Admin yang dulunya responsif tiba-tiba menghilang. Pesan tak dibalas. Informasi tak pernah diberikan. Bahkan, jemaah yang berangkat sebelumnya—yang seharusnya jadi rujukan keandalan perusahaan—juga gagal berangkat.
“Kopernya nggak dikirim, bajunya nggak ada, benefit yang dijanjikan juga ilang. Setiap kali kita lunasi, adminnya nggak kasih bukti terima. Lalu, tiba-tiba semua menghilang,” ujar Joko, dengan suara tertahan.
Ketika ia mencoba menghubungi pemilik Hanania Travel, Ahmad Syah Farhan, ia mendengar kisah yang lebih suram: perusahaan itu sudah defisit sejak 2025, tapi tetap menerima uang jemaah di 2026 dengan harapan bisa menutupi utang. Konflik di Timur Tengah menjadi alasan tambahan untuk menaikkan biaya—padahal, menurut Joko, itu hanyalah pelindung dari ketidakmampuan manajemen.
Bahkan, Farhan sendiri, dalam percakapan dengan sejumlah korban, mengakui bahwa total uang yang terkumpul dari jemaah yang gagal berangkat antara Syawal hingga Oktober 2026 mencapai sekitar Rp60 miliar.
Joko bukan satu-satunya. Ratusan keluarga lain pun terjebak dalam jaringan penipuan yang sama. Banyak yang menabung bertahun-tahun, bahkan ada yang menggadaikan tanah demi memenuhi biaya umrah.
Tapi Joko memilih berbeda.
Daripada terus menunggu keadilan yang tak kunjung datang, ia mengambil keputusan pribadi: ia membayar sendiri biaya umrah mertuanya. Ia tidak meminta uangnya kembali—ia justru memberi.
“Saya tidak bisa membiarkan mereka kecewa. Mereka sudah tua. Sudah menabung seumur hidup. Saya tidak bisa membiarkan mimpi mereka hancur karena kesalahan orang lain,” katanya.
Kini, mertuanya sudah berada di Makkah, berjalan di sekitar Ka’bah, menundukkan kepala dalam doa. Sementara Joko, dengan senyum kecil yang penuh beban, menatap layar ponselnya—melihat foto-foto mertuanya di depan Masjidil Haram.
Sementara itu, Polda Metro Jaya tengah memeriksa Ahmad Syah Farhan atas dugaan penipuan yang melibatkan puluhan korban. Laporan resmi sudah diterima, dan kasus ini kini dalam proses hukum.
Tapi bagi Joko, hukum bukan satu-satunya jawaban.
Ia tahu, keadilan bisa datang lewat pengadilan. Tapi kebaikan? Itu datang dari hati.
Dan hatinya tidak pernah menunggu izin untuk berbuat baik.















