Home Berita Nasional Manufaktur RI Tetap Ekspansif Meski Global Terguncang

Manufaktur RI Tetap Ekspansif Meski Global Terguncang

Sumbawanews.com,- Jakarta – Meski gelombang ketidakpastian global terus menghantam, sektor manufaktur Indonesia berhasil bertahan di zona ekspansi pada Triwulan I-2026. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, indeks keyakinan bisnis manufaktur (IKBM) berada di level 51,37—masih di atas ambang batas 50 yang menandakan optimisme pelaku usaha terhadap tren pertumbuhan.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan, pertumbuhan industri pengolahan mencapai 5,04 persen secara tahunan, menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen pada periode yang sama. Di balik angka ini, ada dorongan kuat dari investasi dan permintaan domestik yang terus membangkitkan aktivitas produksi.

Beberapa subsektor menjadi motor penggerak utama. Industri mesin dan perlengkapan melonjak 21,93 persen, diikuti industri komputer, elektronik, dan optik yang tumbuh 10,35 persen, serta barang galian bukan logam yang naik 9,12 persen. Peningkatan ini sejalan dengan lonjakan impor barang modal sebesar 14,27 persen, yang menunjukkan kepercayaan pelaku usaha untuk memperluas kapasitas produksi.

Namun, di tengah keberhasilan ini, ada celah yang tak bisa diabaikan. BPS mencatat waktu pengiriman barang masih mengalami kontraksi akibat penundaan logistik selama Ramadan dan Idul Fitri. Selain itu, dua subsektor mengalami tekanan: industri alat angkut terkontraksi 5,4 persen, sementara industri pengolahan tembakau turun 2,8 persen.

“Pemulihan belum merata,” ujar Amalia. “Kita perlu melihat data secara granular, bukan hanya dari permukaan. Ada yang berlari kencang, ada yang masih berjalan pelan.”

Meski demikian, secara keseluruhan, ketahanan sektor manufaktur terbukti tangguh. Dengan dukungan konsumsi rumah tangga yang stabil dan belanja pemerintah yang cepat terealisasi di awal tahun, industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional. BPS, dengan sampel sebanyak 8.561 perusahaan, menegaskan bahwa optimisme pelaku usaha masih mendominasi—meski tantangan global seperti gejolak geopolitik dan tekanan inflasi tetap menjadi ancaman nyata.

Amalia menekankan, kebijakan penguatan sektor riil ke depan harus lebih presisi: mendukung subsektor yang sedang tumbuh, sekaligus memberikan insentif strategis bagi yang masih terhambat. Dengan begitu, ketahanan manufaktur Indonesia tidak hanya bertahan, tapi bisa bertransformasi menjadi kekuatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Previous articleKorsel Rencanakan Kapal Selam Nuklir Hadapi Ancaman Korut
Next article**Matahari di Atas Ka’bah, Cek Kiblat dengan Bayangan**
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik