Sumbawanews.com,- Jakarta — Dalam upaya meredam maraknya tawuran dan perundungan di kalangan pelajar, Wali Kota Jakarta Pusat, Tomi Haryono, menggelar apel besar yang menghimpun lebih dari 5.000 anggota Jumtek PMR (Jumat Teknologi Palang Merah Remaja) dari seluruh sekolah menengah di wilayah itu. Acara yang berlangsung di Lapangan Banteng, Selasa (23/6/2026), bukan sekadar seremonial, tapi menjadi langkah strategis pemerintah kota untuk membangun budaya keamanan dan empati di lingkungan pendidikan.
Tomi, yang hadir langsung memimpin apel, menekankan bahwa kekerasan antarremaja bukan lagi masalah isolasi, melainkan gejala sistemik yang memerlukan respons kolektif. “Kita tidak bisa hanya menunggu kejadian terjadi baru bertindak. Kita harus membangun benteng moral sejak dini,” ujarnya di hadapan para siswa yang mengenakan seragam merah putih PMR, dengan pita hijau sebagai simbol perdamaian.
Ribuan siswa itu, yang berasal dari 127 sekolah negeri dan swasta, tidak hanya hadir sebagai peserta, tapi sebagai agen perubahan. Mereka dilatih dalam modul khusus: deteksi dini konflik, teknik mediasi sebaya, dan respons kemanusiaan dasar. Setiap kelompok Jumtek PMR akan bertugas sebagai “satuan pengawas damai” di sekolah masing-masing, dengan tugas memantau perilaku menyimpang, membantu korban bullying, dan menjadi jembatan komunikasi antara siswa, guru, dan orang tua.
Program ini diluncurkan bersamaan dengan peluncuran aplikasi “JakPusat Aman”, yang memungkinkan pelajar melaporkan insiden kekerasan secara anonim melalui ponsel. Laporan akan langsung masuk ke pusat kendali Dinas Pendidikan dan Satpol PP, yang siap merespons dalam waktu kurang dari satu jam.
Kepala Dinas Pendidikan Jakarta Pusat, Siti Fauziah, menambahkan bahwa pelibatan PMR bukan sekadar memanfaatkan tenaga siswa, tapi mengembalikan peran pendidikan sebagai ruang pembentukan karakter. “Anak-anak ini bukan hanya calon pemimpin masa depan. Mereka adalah garda terdepan dalam membangun kembali rasa saling menghargai di antara sesama,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Tomi juga mengumumkan rencana pembentukan “Kampung Damai” di lima titik rawan tawuran, yang akan menjadi pusat kegiatan positif bagi remaja: pelatihan keterampilan, bimbingan rohani, dan ruang konseling psikologis gratis. “Kita ingin mengganti ruang kosong yang dulu diisi oleh kekerasan, dengan ruang yang dipenuhi harapan,” ujarnya.
Masyarakat pun menyambut positif inisiatif ini. Orang tua siswa dari Kebon Sirih, Rina Wijaya, mengaku lega. “Dulu saya takut anak saya pulang sekolah. Sekarang, saya tahu ada sistem yang menjaga mereka, bahkan dari mereka sendiri.”
Dengan langkah ini, Jakarta Pusat menjadi kota pertama di Indonesia yang mengintegrasikan gerakan siswa sebagai tulang punggung pencegahan kekerasan, bukan hanya sebagai objek yang dilindungi, tapi sebagai subjek yang aktif membangun perdamaian.















