Home Berita Nasional Kemenhaj Siagakan Tim Darurat di Jamarat

Kemenhaj Siagakan Tim Darurat di Jamarat

Sumbawanews.com,- Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperketat pengawasan dan respons darurat di kawasan Jamarat, Mina, dengan menyiagakan tim Mobile Crisis Rescue (MCR) secara penuh selama puncak ibadah haji. Tim khusus ini ditempatkan di titik-titik strategis sepanjang rute pergerakan jemaah, bertugas memberikan pertolongan pertama, evakuasi darurat, dan mengurai kepadatan saat pelaksanaan lontar jumrah pada hari Tasyrik.

Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff menjelaskan, MCR bukan sekadar posko biasa, melainkan unit operasional yang dirancang khusus untuk menangani situasi kritis di tengah kerumunan jemaah. “Tim ini siap merespons segala bentuk keadaan darurat—mulai dari jemaah yang pingsan, kelelahan ekstrem, tersesat, hingga evakuasi mendesak bagi lansia dan penyandang disabilitas,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (28/5).

Penempatan MCR sengaja dipadatkan di sepanjang jalur utama menuju tiga jamarah—Ula, Wustha, dan Aqabah—agar petugas dapat memantau dinamika pergerakan secara real-time dan bertindak cepat sebelum kondisi memburuk. “Layanan tidak boleh hanya berhenti di tenda. Kami pastikan petugas ada di mana pun jemaah bergerak, terutama di titik-titik rawan kepadatan,” tambah Maria.

Pada 11 Dzulhijjah 1447 H, jemaah haji Indonesia mulai melaksanakan lontar jumrah sesuai jadwal resmi yang dibagi dalam dua sesi: sesi pertama pukul 17.00–24.00 waktu Arab Saudi, dan sesi kedua pukul 00.00–04.00 dini hari 12 Dzulhijjah. Selama periode tersebut, larangan melontar berlaku pukul 11.00–18.00. Pada 12 Dzulhijjah, jadwal lontar dibagi menjadi dua sesi lagi—pukul 05.00–10.30 dan 18.00–24.00—with larangan pada pukul 11.00–14.00. Sedangkan pada 13 Dzulhijjah, pelaksanaan lontar hanya berlangsung pukul 05.00–12.00 tanpa jam larangan khusus.

Maria menekankan, kepatuhan terhadap jadwal resmi bukan sekadar administratif, tapi bagian dari strategi keselamatan. “Kepadatan yang tidak terkendali bisa berakibat fatal. Setiap kloter harus mengikuti jadwal yang ditetapkan, tanpa penyesuaian pribadi,” tegasnya.

Lebih dari itu, Kemenhaj mengimbau seluruh jemaah untuk tidak bergerak sendiri. Semua pergerakan wajib dilakukan secara berkelompok, di bawah pengawasan ketua kloter, pembimbing ibadah, dan petugas lapangan. “Jangan memaksakan diri. Jangan terburu-buru. Jangan memisahkan diri dari rombongan. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama,” pesan Maria.

Dengan jaringan MCR yang terintegrasi dan koordinasi ketat antar sektor, Kemenhaj berkomitmen menjadikan perlindungan jemaah sebagai prioritas utama—bukan hanya sebagai kewajiban ritual, tapi sebagai amanah kemanusiaan.

Previous articleTuang Bensin untuk Bakar Sate, Pria di Ciputat Terbakar Parah
Next articleMaxim Gencar Latih Mitra Pengemudi agar Profesional
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik