Sumbawanews.com,- Api belum juga padam di Kampung Pasar Jiung, Kemayoran, Jakarta Pusat, ketika warga berbondong-bondong menyusup ke dalam kobaran asap tebal untuk menyelamatkan barang-barang berharga. Di tengah kepanikan, rumah-rumah padat dan kios-kios pedagang menjadi medan perang melawan waktu: kasur, dokumen penting, hewan peliharaan, bahkan stok pakan ternak—semua diangkut keluar, meski asap menggigit paru-paru dan panas membakar kulit.
Pukul 23.45 WIB, Lapangan Jusuf Hamka berubah jadi gudang darurat. Tumpukan barang berserakan di tanah—lemari terbalik, kardus elektronik terbuka, karung goni penuh pakan ayam, dan koper-koper berisi pakaian dan uang tunai. Warga yang sempat mengungsi kembali masuk, bukan karena nekat, tapi karena tak punya pilihan. “Saya sudah pulang ke Mangga Dua, tapi ditelepon katanya kebakaran besar. Langsung saya balik, belum ganti baju,” kata Tajudin, 46, pedagang pakan ternak yang kehilangan separuh dagangannya dalam hitungan menit.
Di sepanjang Jalan Benyamin Suaeb, puluhan kios Pasar Jiung berubah jadi taman barang bekas. Pedagang saling bantu mengangkat rak-rak kaca, mesin kasir, dan bungkusan bahan makanan ke atas truk dan gerobak. Tidak ada yang menunggu petugas. “Api masih jauh, tapi saya takut—kalau angin berubah, semuanya habis,” ujar Heni, warga RW 04 Kebon Kosong, yang bolak-balik tujuh kali masuk ke rumahnya yang terbakar.
Petugas pemadam kebakaran yang mengerahkan 33 unit mobil dan 100 personel masih berjuang mengendalikan api yang menjalar cepat di antara bangunan semi-permanen berbahan kayu dan plastik. Ledakan kecil terdengar berulang kali—dari tabung gas, kabel listrik, hingga bahan kimia yang tersimpan di gudang. Saksi mata mengaku mendengar tujuh kali dentuman sebelum api membesar.
Tidak ada korban jiwa dilaporkan, tapi kerugian materi diperkirakan miliaran rupiah. Ribuan jiwa terdampak, dan sebagian besar belum bisa kembali ke rumah. Di tengah kekacauan, satu hal jelas: ketika negara belum datang, warga sendiri yang menjadi penjaga terakhir harta benda mereka—dengan asap di hidung, api di belakang, dan harapan di depan.















