Sumbawanews.com,- Gaza – Malam yang seharusnya dipenuhi takbir dan kehangatan keluarga berubah menjadi malam duka. Serangan udara Israel melanda wilayah Gaza pada malam Iduladha, Selasa (26/5/2026), menewaskan setidaknya sembilan warga sipil—termasuk perempuan dan anak-anak—sekaligus melukai puluhan lainnya. Serangan ini terjadi meski gencatan senjata masih berlaku, memperdalam krisis kemanusiaan di kawasan yang sudah lama terjebak dalam konflik berkepanjangan.
Di lingkungan Rimal Selatan, sebelah barat Kota Gaza, pesawat tempur Israel meluncurkan rudal ke sebuah bangunan tempat tinggal. Saksi mata melaporkan ledakan dahsyat yang menghancurkan lantai atas rumah dan memicu kebakaran hebat. Tiga orang tewas di lokasi itu, termasuk seorang ibu yang sedang berada di dalam rumah bersama keluarganya. Lebih dari 20 orang terluka, sebagian besar mengalami luka bakar dan patah tulang akibat reruntuhan.
Tak jauh dari sana, di kawasan Rimal, serangan lain menargetkan atap rumah lain, melukai lima warga—sebagian besar perempuan dan anak-anak yang sedang bersiap menyambut hari raya. Di Khan Younis, wilayah selatan Gaza, sebuah drone Israel menyerang kendaraan sipil di kawasan Al-Mawasi, menewaskan dua orang. Jenazah korban ditemukan dalam kondisi terbakar parah, sehingga identifikasi memerlukan waktu lebih lama.
Sebelumnya, empat warga sipil tewas dalam serangan terhadap kerumunan warga di sebelah timur kamp pengungsi Maghazi, Gaza tengah. Saat fajar menyingsing, seorang perempuan terluka akibat tembakan tentara Israel yang menembaki tenda-tenda pengungsian di Khan Younis—tempat ribuan keluarga berlindung dari kehancuran berulang.
Korban-korban itu bukan sekadar angka. Mereka adalah ibu yang menyiapkan makanan untuk kurban, ayah yang ingin berbagi daging dengan tetangga, anak-anak yang menanti hadiah Iduladha, dan para lansia yang berdoa di tengah malam untuk kedamaian. Serangan ini menghancurkan bukan hanya bangunan, tapi juga harapan terakhir warga Gaza untuk merayakan hari suci tanpa rasa takut.
Pemerintah Palestina dan organisasi kemanusiaan mendesak komunitas internasional segera bertindak. “Ini bukan sekadar pelanggaran gencatan senjata,” kata seorang pejabat kesehatan di Gaza. “Ini adalah kekejaman yang dilakukan di tengah momen paling suci umat Islam—ketika manusia seharusnya saling berbagi, bukan saling membunuh.”
Dunia kini dihadapkan pada pilihan: diam atau bersuara. Di Gaza, malam Iduladha yang seharusnya penuh cahaya, kembali gelap oleh asap dan duka.















