Home Berita Nasional **Glasner Pergi, Trofi Terakhir untuk Palace**

**Glasner Pergi, Trofi Terakhir untuk Palace**

Sumbawanews.com,- Di tengah gemuruh Stadion Red Bull Arena Leipzig, Oliver Glasner akan mempersembahkan laga terakhirnya sebagai pelatih Crystal Palace — sebuah pertandingan yang bukan sekadar final, tapi perpisahan penuh makna. Kamis dini hari, 28 Mei 2026, pukul 02.00 WIB, ia akan memimpin The Eagles menghadapi Rayo Vallecano dalam final UEFA Conference League, sekaligus menutup babak dua tahun penuh keajaiban di bawah asuhannya.

Bukan kebetulan bahwa kebangkitan Palace sejalan dengan kedatangan Glasner pada Februari 2024. Ketika ia menggantikan Roy Hodgson, tim yang sempat terpuruk di papan tengah berubah menjadi mesin konsistensi. Di musim pertamanya, Palace finis di posisi ke-10 Liga Inggris, dengan hanya tiga kekalahan dalam 13 laga setelah ia tiba. Tapi itu baru awal.

Pada 17 Mei 2025, ia membawa Palace ke Stadion Wembley untuk pertama kalinya dalam sejarah modern — final FA Cup. Gol tunggal Eberechi Eze mengantarkan trofi mayor pertama klub sejak 1861, mengakhiri kekeringan gelar yang telah berlangsung selama lebih dari 160 tahun. Tiga bulan kemudian, Palace kembali mengejutkan: mengalahkan juara bertahan Liga Inggris, Liverpool, dalam adu penalti 3-2 setelah bermain imbang 2-2 di final FA Community Shield. Dua trofi dalam satu musim. Sebuah pencapaian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kini, dengan satu laga lagi, Glasner berdiri di ambang sejarah yang lebih besar: trofi Eropa. Juara UEFA Conference League bukan hanya akan menjadi gelar ketiga dalam dua tahun, tapi juga kunci masuk ke Liga Europa — panggung yang lebih bergengsi, dan lebih menantang. Bagi klub yang selama puluhan tahun hanya menjadi penonton di kancah Eropa, ini adalah lompatan monumental.

Namun, apa pun hasilnya, Glasner telah menyelesaikan misinya. Ia tidak datang untuk membangun tim yang menang, tapi untuk menciptakan mentalitas pemenang. “Saya ingin menonton mereka di TV, memulai Liga Europa dengan hasrat yang sama, yakin bahwa mereka bisa menang lagi,” ujar Glasner, suara tenang tapi penuh keyakinan. “Karena kami telah menanamkan sesuatu yang lebih dari taktik — kami menanamkan kepercayaan bahwa kemenangan adalah standar, bukan keajaiban.”

Ia tak akan berada di bench musim depan. Tapi jejaknya akan tetap ada: dalam gaya bermain yang disiplin, dalam semangat yang tak pernah menyerah, dalam setiap pemain yang kini percaya bahwa mereka layak berada di puncak.

Final ini bukan hanya tentang trofi. Ini adalah persembahan terakhir seorang arsitek yang mengubah mimpi menjadi kenyataan — dan meninggalkan warisan yang tak akan pudar, bahkan setelah ia pergi.

Previous articlePengasuh Ponpes di Pekalongan Diduga Cabuli Puluhan Santriwati
Next articleTerancam Penjara, Razman Mohon Maaf Atas Kegaduhan di Sidang
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik