Sumbawanews.com,- Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) bukan lagi masa depan yang jauh, melainkan realitas hari ini yang harus dikuasai, bukan sekadar dijadikan alat pasif. Dalam sambutannya di Indonesia Connect Outlook 2026, Gibran menyerukan generasi muda untuk menjadi pelaku aktif dalam transformasi digital, bukan hanya penonton yang pasif.
“AI bukan lagi masa depan. AI adalah hari ini. Kita tidak bisa menutup mata atau hanya jadi penonton. Kita harus menjadi pemain, harus menjadi penguasa teknologi ini,” tegasnya, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Wakil Presiden, Rabu (17/6/2026).
Gibran mengingatkan bahwa literasi digital kini menggantikan literasi baca-tulis sebagai fondasi utama pendidikan abad ke-21. AI, menurutnya, bisa menjadi asisten pribadi yang membantu memahami rumus matematika, menerjemahkan bahasa asing, atau mencari referensi ilmiah—tetapi hanya jika digunakan sebagai alat penguatan, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis. “Jangan biarkan AI membuatmu malas berpikir. Gunakan ia untuk memperdalam pemahaman, bukan menggantikan proses belajar.”
Dia menyoroti peluang besar yang terbuka akibat maraknya teknologi AI open source yang bisa diakses secara gratis oleh siapa saja. Bagi talenta muda Indonesia, ini adalah kesempatan emas untuk bersaing di kancah global. “Di tangan yang menguasai teknologi, Indonesia Emas 2045 bukan lagi impian—tapi kepastian,” ujar Gibran.
Namun, ia menekankan bahwa penguasaan teknis saja tidak cukup. Etika dan integritas menjadi tulang punggung penggunaan AI yang bertanggung jawab. “Teknologi tanpa moral bisa memicu hoaks, plagiarisme, pelanggaran privasi, dan penipuan. Kemajuan harus sejalan dengan kemajuan moralitas kita sebagai bangsa yang beradab,” tegasnya.
Gibran juga menyerukan peran aktif para pendidik dan orang tua. Guru, katanya, perlu terus meningkatkan kompetensi agar mampu memanfaatkan AI untuk menyederhanakan materi, menyusun soal, atau mengurangi beban administratif—sehingga waktu lebih banyak dialokasikan untuk membentuk karakter dan nilai kemanusiaan. “Guru yang melek AI bukan hanya mengajar, tapi membimbing generasi untuk berpikir secara manusiawi.”
Sementara itu, bagi orang tua, ia mengingatkan agar tidak tertinggal dalam memahami dunia digital anak-anak mereka. “Jangan sampai anak kita terbang tinggi dengan teknologi, sementara kita tertinggal di bawah, tidak tahu apa yang mereka akses atau bagaimana mereka menggunakannya.”
Pemerintah, lanjut Gibran, telah menyelesaikan *Readiness Assessment Methodology* (RAM) untuk AI yang dikembangkan UNESCO. Instrumen ini menjadi peta jalan untuk menilai kesiapan Indonesia dalam tata kelola AI yang etis, aman, dan inklusif. “Pemerintah membangun ekosistem, tapi masyarakat harus siap mengisi ruang itu dengan kapasitas dan integritas.”
Ia menutup pidatonya dengan ajakan tegas: “Kuasai teknologinya, pegang teguh etikanya. Mari jadikan AI sebagai jembatan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, dan lebih bermartabat.”















