Sumbawanews.com,- Lei Jun, pendiri dan CEO Xiaomi, kini menjadi sosok yang dihormati di jantung industri teknologi global—tapi perjalanan menuju puncaknya dimulai dari hal-hal sederhana yang nyaris diabaikan.
Pada 2011, saat Xiaomi baru berdiri, Lei Jun tak punya tim, tak punya anggaran besar, hanya tekad dan segepok brosur. Ia berkeliling jalanan Beijing, mendekati orang-orang asing, meminta mereka mengisi survei tentang ponsel impian. Banyak yang menolak. Beberapa bahkan menggelengkan kepala, mengacungkan tangan sebagai tanda “tidak tertarik.” Tapi Lei Jun tak menyerah. Dengan kaos polo hitam yang sama setiap hari, ia terus berjalan, tersenyum, dan bertanya—sendirian.
Kisah itu, yang kemudian viral di media sosial, bukan sekadar momen nostalgia. Ia adalah simbol dari filosofi Xiaomi: mendengarkan pengguna, menghargai setiap suara, bahkan yang paling kecil. Dan ternyata, suara itu berbicara.
Dalam waktu kurang dari satu dekade, Xiaomi melesat dari startup tak dikenal menjadi salah satu merek ponsel terbesar di dunia, menggeser Apple dan Samsung di pasar berkembang, dan menembus Eropa, Asia Tenggara, hingga Amerika Latin. Pada 2025, perusahaan yang didirikan bersama Lin Bin itu mencatat penjualan lebih dari 180 juta unit per tahun, dengan pendapatan mencapai lebih dari $38 miliar.
Lei Jun, yang kini berusia 56 tahun, tak hanya menjadi CEO. Ia menjadi ikon—sering disebut “Steve Jobs-nya China.” Gaya berpakaian minimalis, pidato penuh kehangatan, dan visi produk yang menekankan kualitas tinggi dengan harga terjangkau, membuatnya dianggap sebagai pewaris semangat inovasi Apple. Tapi Lei Jun menolak label itu. Dalam sebuah posting blog tahun 2013, ia menulis tegas: “Saya bukan Steve Jobs. Saya adalah Lei Jun. Dan saya ingin membangun dunia yang berbeda—bukan meniru, tapi menciptakan ulang.”
Visinya terwujud dalam AIOS, sistem operasi buatan Xiaomi yang dirancang untuk menggantikan Android dalam jangka panjang, dan pabrik-pabrik cerdas yang beroperasi 24 jam tanpa manusia. Di ajang Asia Annual Conference 2025 di Boao, ia berjalan di tengah kerumunan jurnalis dan penggemar yang berebut foto—tapi senyumnya tetap sama seperti ketika ia masih berdiri di trotoar Beijing, memegang brosur.
Di balik kesuksesan itu, ada satu prinsip yang tak pernah berubah: “Jangan pernah meremehkan orang yang bersusah payah mendengarkan.” Itu yang membuat Xiaomi bukan sekadar perusahaan teknologi, tapi gerakan yang lahir dari ketekunan, bukan modal.
Kini, ketika dunia memandang China sebagai kekuatan teknologi tak terbendung, nama Lei Jun menjadi simbol bahwa kehebatan tak selalu lahir dari gedung pencakar langit. Kadang, ia dimulai dari seorang pria yang berjalan sendirian di jalan, menawarkan pertanyaan—dan mendengarkan jawabannya.















