Home Berita Internasional Bauxite Kaya, Rakyat Menangis

Bauxite Kaya, Rakyat Menangis

Sumbawanews.com,- Di desa Bembou Silaty, Guinea, tanah yang dulu menopang hidup kini menjadi saksi kehancuran. Mamadou Aliou, 38, bekerja di divisi lingkungan perusahaan pertambangan bauksit, tapi sekaligus aktifis yang berjuang melawan dampak tambang di kampung halamannya. “Dulu, tanah kami memberi makan. Sekarang, begitu tanah itu dikuasai perusahaan, kami kehilangan segalanya,” katanya sambil berjalan di antara sawah yang menyusut.

Guinea menyimpan cadangan bauksit terbesar di dunia—sumber utama alumina dan aluminium, logam krusial untuk kendaraan listrik, turbin angin, dan panel surya. Dalam tiga dekade terakhir, produksinya melonjak sepuluh kali lipat. Lebih dari selusin proyek tambang beroperasi, sebagian besar ekspornya—75 persen—mengalir ke Tiongkok, pabrikan aluminium terbesar dunia. Perusahaan dari India, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab pun berlomba menguasai sumber daya ini.

Di Bembou Silaty, perusahaan India yang mulai beroperasi sejak 2019 kini menguasai konsesi hingga 2034. Tanah pertanian yang subur diganti jalan berdebu, excavator, dan truk pengangkut bauksit yang berisik. Penduduk yang bekerja di tambang bisa dapat gaji hingga $300 per bulan—tapi hanya segelintir. Sebagian besar petani, yang menyumbang separuh perekonomian nasional, kehilangan lahan tanpa kompensasi memadai.

Fatoumata Binta Bah, 20, bercerita: keluarganya menerima kurang dari 50 juta franc Guinea (sekitar $5.700) untuk lahan yang dulu menanam kacang tanah. Uang itu habis dalam hitungan bulan. Rumah beton yang dibangun dari uang kompensasi pun belum selesai. “Tanah kami produktif. Itu yang kami hidupi. Sekarang, tidak ada lagi,” katanya sambil merebus teh di atas api kayu.

Air pun tercemar. Sungai di desa tetangga Koussadji Dow berwarna coklat keruh, sementara di Bembou Silaty, warga harus mengandalkan sumur umum yang mengandung zat besi. “Anak-anak sakit, orang tua juga. Dokter bilang jangan minum air hujan atau sungai. Tapi apa yang harus kami lakukan?” tanya Mariama Kindi Diallo, petani, sambil dikelilingi tetangga yang mengangguk setuju.

Pemerintah Guinea, di bawah Presiden Mamady Doumbouya yang menjabat sejak kudeta 2021 dan terpilih kembali pada 2025 dengan 87 persen suara, berjanji mengubah nasib ini. Ia mendorong investasi untuk membangun pabrik pengolahan bauksit menjadi aluminium di dalam negeri—proses yang bisa meningkatkan nilai ekspor hingga 37 kali lipat. Tapi tantangan besar tetap ada: listrik. Di Bembou Silaty, listrik belum pernah menyentuh. Di Conakry, pemadaman sering terjadi.

Solusi sedang dirancang: mengimpor gas dari Senegal untuk membangun pembangkit listrik yang mampu mendukung industri pengolahan. Tujuannya jelas: agar kekayaan bauksit tidak lagi mengalir keluar negeri tanpa jejak.

Namun, di sisi lain, jejak bauksit Guinea terasa jauh di Eropa. Di Parets del Valles, Spanyol—kota kecil dekat Barcelona—ratusan usaha memproses aluminium yang berasal dari Guinea. Lebih dari 90 persen impor aluminium Spanyol berasal dari Guinea. Di sana, jalan beraspal, air panas mengalir, dan rumah-rumah berdiri kokoh. Di sini, warga Guinea harus berjalan berjam-jam untuk mendapatkan air bersih.

Dan di tengah ketidakadilan ini, ribuan orang meninggalkan tanah airnya. Jumlah imigran Guinea di Spanyol melonjak empat kali lipat sejak 2000—dari 2.700 menjadi 11.000 orang. Di 2023 saja, lebih banyak warga Guinea tiba di Kepulauan Canary daripada gabungan 13 tahun sebelumnya. Mereka datang sendirian, dengan ponsel sebagai satu-satunya penghubung ke rumah. Mereka mengikuti jejak bauksit—dari tanah yang dulu menopang hidup, menuju tempat di mana hasilnya dinikmati, tapi tak pernah kembali.

“Kalau kita bandingkan bauksit yang kami ekspor dengan apa yang kami dapatkan, perbedaannya sangat besar,” kata Aliou. “Kami hampir tidak dapat apa-apa. Hanya cukup untuk bertahan hidup.”

Previous articlePrabowo Sering Keluar Negeri, Dino Patti Minta Efisiensi Anggaran
Next articleDulu Sebar Brosur Sendirian, Kini Pemimpin Raksasa Teknologi China
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik