Sumbawanews.com,- Washington — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan historis untuk meredakan ketegangan antara AS dan Iran akan ditandatangani pada Minggu (14/6), menandai lompatan besar dalam hubungan yang selama bertahun-tahun dipenuhi kecurigaan dan sanksi.
Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa penandatanganan kesepakatan itu “dijadwalkan besok” dan menegaskan bahwa Iran telah sepenuhnya meninggalkan ambisi senjata nuklir. “Mereka tidak lagi menginginkan senjata nuklir, dan mereka juga tidak akan memilikinya — baik melalui pembelian, pengembangan, maupun cara lainnya,” ujarnya.
Kesepakatan ini juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi titik rawan konflik. Trump menekankan bahwa hubungan kedua negara kini “jauh berbeda dan lebih baik” dibandingkan era sebelumnya, khususnya di bawah pemerintahan sebelumnya yang dianggapnya terlalu lunak.
Salah satu poin krusial yang menjadi perhatian publik adalah soal keuangan. Trump menegaskan bahwa tidak akan ada transfer dana AS kepada Iran — berbeda dengan kesepakatan nuklir 2015 di masa pemerintahan Barack Obama yang melibatkan pelepasan ratusan miliar dolar aset dan pembayaran tunai senilai 1,7 miliar dolar. “Tidak ada uang yang berpindah tangan,” tegasnya.
Kementerian Luar Negeri Pakistan juga mengonfirmasi rencana penandatanganan kesepakatan, menyebut prosesnya akan dilakukan secara elektronik. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Teheran dan Washington belum pernah sedekat ini dalam mencapai kesepakatan. Ia menambahkan bahwa Iran bersikeras bahwa pengolahan uranium diperkaya harus tetap dilakukan di dalam wilayahnya, sebagai syarat utama keamanan nasional.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan bahwa naskah final kesepakatan telah disepakati oleh semua pihak. Di sisi lain, laporan sebelumnya menyebut AS sempat mempersiapkan operasi militer untuk merebut fasilitas nuklir Iran, namun operasi itu ditunda setelah kemajuan diplomatik yang tak terduga.
Kesepakatan ini, jika benar-benar direalisasikan, akan menjadi salah satu pencapaian diplomatik paling signifikan dalam dekade terakhir di kawasan Timur Tengah — mengubah peta kekuatan dari konfrontasi menuju koeksistensi, meski tantangan skeptisisme dan kepentingan regional masih menanti ujian nyata.

















